Pasang nama yang menarik perhatian dan begitu juga foto yang mengundang rasa kagum serta penasaran. entah dari mana foto itu berasal....?,yang penting sosok didalam foto tadi bisa mengusik rasa ingin tau,atau lebih banyak mengusik naluri berahi. lihat saja di jejaring sosial seperti Facebook,begitu banyak nama dan foto-foto fiktif yang semata-mata untuk menjaring sebanyak-banyaknya orang untuk mengisi daftar teman di akun.lalu apa itu salah....?pertanyaan ini memang tidak ada gunanya diutarakan,hanya saja apa mereka benar-benar sudah memanfaatkan jejaring sosial dengan ideal?
Apa gunanya jumlah teman yang banyak di akun?
buat saya pribadi ini sangat menggangu. bagaimana tidak,setiap detik selalu ada status baru yang diupload guna untuk berbagi kisah atau hanya sekedar tegur sapa.dari orang-orang yang sama sekali tidak dikenal, belum lagi fake status yang hanya hadir sebagai sebuah "keharusan" dalam memulai hari para pengguna jejaring sosial.
Status untuk sebuah komen.../solusi?
apa yang kalian harapkan dari sebuah status? komentarkah/solusi?atau hanya sekedar mencurahkan isi pikiran?. Liat saja begitu banyak status yang hanya melahirkan media sebagai ajang olok-olokan(keisengan)semata.....bahkan ada yang hanya dihadiahi simbol-simbol.
memang terkadang saya pribadi terjebak dalam permainan seperti diatas,saling memberi komen yang bernada keisengan belaka, Apa kita pernah kita berpikir bahwa semakin lama, rasa empati kita semakin jauh terselip di dalam sebuah lelucon?
reza pahlevi
Kamis, 17 Februari 2011
Minggu, 16 Januari 2011
Rabu, 29 Desember 2010
Rabu, 22 Desember 2010
Zombie
Ruangan itu terlalu kecil untuk ditempati seorang penguasa yang cukup disegani. Bukannya ingin hidup secara sederhana dan memberikan contoh bagi warganya tapi ini adalah tindakan penyelamatan orang – orang kepercayaan yang begitu mencintai pemimpin mereka. Ruangan ini sudah sejak lama diciptakan untuk menyelamatkan pemimpin mereka dari zombie yang sejak lama pula mengincarnya. Dibelahan dunia lain seorang zombie telah duduk bersantai dengan pengawalan yang sangat ketat bahkan seekor lalat tidak akan luput dari pengawasan mata para pengawal.
“ Bagaimana apa sudah ada kabar dimana tempat persembunyian si Brewok?” tanya zombie kepada kepala militernya, sambil meneguk segelas anggur merah.
“ Beberapa tempat yang dicurigai menjadi tempat persembunyian telah diratakan dengan tanah tapi bangkainya belum ditemukan”
Di ruangan yang megah yang dihiasi warna putih dari luar hingga dalam dan menjadikan warna itu menjadi nama gedung tempat berdaung para zombie yang mengontrol kebijakkan dunia duduk pula perdana menteri, seorang zombie betina yang sangat kejam.
“Bagaimana menurut perdana menteri?” Tanya raja zombie
“Teruskan misi, dan kalau perlu ratakan semua gedung yang ada di sana, jangan sampai ada lubang tikus yang terlewatkan” jawab perdana menteri
“Baiklah kalau begitu, tapi apa keberadaan warga sipil harus diperhatikan”tanya kepala militer
“Jangan biarkan keberadaan mereka menghalangi misi” balas perdana menteri dengan mimik yang semakin menunjukkan betapa buruk wajah yang dimilikinya.
Di beberapa kunjungannya ke negara – negara ‘jajahannya’ terutama yang berada di benua Asia sang perdana menteri negara zombie ini seringkali mencoba mengubah bentuk wajah yang buruk rupa dengan sering tersenyum dan mengatakan hal – hal baik dengan maksud menidurkan warga negara yang menjadi ‘jajahan’ negaranya. Taktik ini memang telah menjadi prosedur standar bagi setiap penjajah. Mengambil hati secara halus akan diterapkan terlebih dahulu selama negara ‘jajahannya’ masih bisa dikendalikan. Negara tempat Asep berdaung merupakan salah satu ‘jajahan’ negara zombie. Sejak merdeka dari jajahan negeri kincir angin, negara Asep yang merasa bangga dengan kebebasannya semakin terikat kaki dan tangan bahkan lidahnya-pun hanya dapat mengeluarkan kebijakan yang disetujui oleh raja zombie. Secara fisik dan kasat mata negara Asep tak terlihat layaknya negara jajahan. Gedung yang menjulang tinggi dan megah sudah tak terhitung lagi dengan jari, mobil keluaran terbaru dari merek apapun dapat dilihat di jalanan negara ini.
“Sep, tau nggak barusan berita di TV tentang negara si Brewok?”
“Memangnya kenapa, apa si Breyok,ops Brewok udah ketangkap ama pasukan zombie?”
“Belum sih. Gila, aku sampai merinding ngeliatnya. Tambah gersang aja negara si Brewok, udah panas terus setiap hari malah di bombardir” kata Malih teman senasib Asep yang belum menyadari bahwa nasib mereka sama dengan si Brewok. Namun hal ini pasti disanggah Brewok dan pengikutnya karena mereka melawan setiap bentuk penjajahan zombie di negaranya.
Telepon berwarna merah terang di ruang raja zombie menjerit – jerit untuk digenggam.
“Halo, selamat malam Pak, maaf saya menggangu” terdengar suara kepala militer
“ Tidak apa – apa. Saya belum tidur kebetulan sekarang perdana menteri sedang bersama saya. Kami sedang menonton acara Jack ass. O, iya ada apa kamu menghubungi saya?”
“Mengenai si Brewok, kami telah menemukannya dalam keadaan hidup di sebuah ruang bawah tanah di desa kelahirannya”
“Bagus, ucapkan selamat dari saya bagi para pasukan yang telah berhasil menangkap Brewok dan kamu atur pengiriman rasa terima kasih saya bagi mereka”
“Maksud bapak bintang penghargaan?”
“Ini yang lebih mereka butuhkan daripada bintang penghargaan. Kirim beberapa betina untuk dijadikan santapan mereka” Telepon lalu ditutup, raja dan perdana menteri saling melemparkan senyuman. Keduanya lalu terbahak – bahak kegirangan. Dibelahan dunia lain para pemimpin di negara Asep pun terbahak – bahak menikmati segala bentuk penjajahan. ( Reza )
“ Bagaimana apa sudah ada kabar dimana tempat persembunyian si Brewok?” tanya zombie kepada kepala militernya, sambil meneguk segelas anggur merah.
“ Beberapa tempat yang dicurigai menjadi tempat persembunyian telah diratakan dengan tanah tapi bangkainya belum ditemukan”
Di ruangan yang megah yang dihiasi warna putih dari luar hingga dalam dan menjadikan warna itu menjadi nama gedung tempat berdaung para zombie yang mengontrol kebijakkan dunia duduk pula perdana menteri, seorang zombie betina yang sangat kejam.
“Bagaimana menurut perdana menteri?” Tanya raja zombie
“Teruskan misi, dan kalau perlu ratakan semua gedung yang ada di sana, jangan sampai ada lubang tikus yang terlewatkan” jawab perdana menteri
“Baiklah kalau begitu, tapi apa keberadaan warga sipil harus diperhatikan”tanya kepala militer
“Jangan biarkan keberadaan mereka menghalangi misi” balas perdana menteri dengan mimik yang semakin menunjukkan betapa buruk wajah yang dimilikinya.
Di beberapa kunjungannya ke negara – negara ‘jajahannya’ terutama yang berada di benua Asia sang perdana menteri negara zombie ini seringkali mencoba mengubah bentuk wajah yang buruk rupa dengan sering tersenyum dan mengatakan hal – hal baik dengan maksud menidurkan warga negara yang menjadi ‘jajahan’ negaranya. Taktik ini memang telah menjadi prosedur standar bagi setiap penjajah. Mengambil hati secara halus akan diterapkan terlebih dahulu selama negara ‘jajahannya’ masih bisa dikendalikan. Negara tempat Asep berdaung merupakan salah satu ‘jajahan’ negara zombie. Sejak merdeka dari jajahan negeri kincir angin, negara Asep yang merasa bangga dengan kebebasannya semakin terikat kaki dan tangan bahkan lidahnya-pun hanya dapat mengeluarkan kebijakan yang disetujui oleh raja zombie. Secara fisik dan kasat mata negara Asep tak terlihat layaknya negara jajahan. Gedung yang menjulang tinggi dan megah sudah tak terhitung lagi dengan jari, mobil keluaran terbaru dari merek apapun dapat dilihat di jalanan negara ini.
“Sep, tau nggak barusan berita di TV tentang negara si Brewok?”
“Memangnya kenapa, apa si Breyok,ops Brewok udah ketangkap ama pasukan zombie?”
“Belum sih. Gila, aku sampai merinding ngeliatnya. Tambah gersang aja negara si Brewok, udah panas terus setiap hari malah di bombardir” kata Malih teman senasib Asep yang belum menyadari bahwa nasib mereka sama dengan si Brewok. Namun hal ini pasti disanggah Brewok dan pengikutnya karena mereka melawan setiap bentuk penjajahan zombie di negaranya.
Telepon berwarna merah terang di ruang raja zombie menjerit – jerit untuk digenggam.
“Halo, selamat malam Pak, maaf saya menggangu” terdengar suara kepala militer
“ Tidak apa – apa. Saya belum tidur kebetulan sekarang perdana menteri sedang bersama saya. Kami sedang menonton acara Jack ass. O, iya ada apa kamu menghubungi saya?”
“Mengenai si Brewok, kami telah menemukannya dalam keadaan hidup di sebuah ruang bawah tanah di desa kelahirannya”
“Bagus, ucapkan selamat dari saya bagi para pasukan yang telah berhasil menangkap Brewok dan kamu atur pengiriman rasa terima kasih saya bagi mereka”
“Maksud bapak bintang penghargaan?”
“Ini yang lebih mereka butuhkan daripada bintang penghargaan. Kirim beberapa betina untuk dijadikan santapan mereka” Telepon lalu ditutup, raja dan perdana menteri saling melemparkan senyuman. Keduanya lalu terbahak – bahak kegirangan. Dibelahan dunia lain para pemimpin di negara Asep pun terbahak – bahak menikmati segala bentuk penjajahan. ( Reza )
“TAKDIR”
Sialan, entah apa yang terjadi. Aku perhatikan beberapa hari ini mereka semakin membanyak, entah dari mana datangnya. Memang ini bukan pertama kalinya mereka berbondong – bondong menghampiri, ini sangat menggangu bagiku. Pernah aku tanpa sengaja membunuh salah satu dari mereka, sungguh itu murni ketidaksengajaan. Untungnya tak ada yang menuntut balas, mungkin. Aku tahu mereka juga makhluk ciptaanNYA, tapi ini sungguh menggangguku. Mereka berkeliaran seenaknya, tanpa permisi, sungguh tak ada sopan santun pada mereka, entah apa yang diajarkan kedua orang tuanya. Dengan lagak yang sok cuek memasuki rumahku, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Mungkin aku yang kurang tegas dalam bersikap, tapi mestinya merekapun menghargaiku, jangan mentang-mentang sesama makhluk TUHAN lalu bisa seenaknya. Apa mereka tak tahu kalau aku ini dianugerahi derajat yang lebih. Nah ini salah satu contoh betapa kurang ajarnya mereka, bahkan makanan dan minumanku juga mau mereka cicipi. Mampus, biar tahu rasa.
“Ayo mana lagi yang mau mengakhiri umurnya ditanganku”, lekas kemari. Satu persatu mulai mengejek dengan berputar-putar di sekelilingku, ini dia satu lagi yang akan menggapai ajalnya hari ini, sialan ternyata lincah juga. Terkadang aku bertanya dalam hati apa ini dosa. Pembunuh, itukah julukan yang kusandang saat ini? mungkin bagi mereka aku memang pembunuh. Apa boleh buat semua telah terjadi, tak mungkin dapat kuhidupkan mereka lagi, dan akupun tak mungkin bersahabat atau bersikap ramah, mungkin ini sudah seharusnya terjadi. mungkin mereka memang dilahirkan untuk menguji kesabaranku, mungkin aku dilahirkan untuk menjadi salah satu yang menghabisi kaum mereka. Nah si lincah yang tadi datang lagi, sekarang dia sedang berdiri, berputar-putar di dekat salah satu dari kaumnya yang telah mendahuluinya. Rasa penasaran tiba-tiba menyapa, dengan hati-hati ku coba mengamatinya, apa yang sedang dipikirkannya, apa dia juga merasa kehilangan seperti kaumku yang di tinggal pergi.
“Ayah jangan tinggalkan aku, masih banyak yang belum kau ajarkan padaku”, dengan berlinang airmata si lincah tak henti mencoba memeluk sang ayah. Betapa terkejut aku dibuatnya, apa ini hanya bayanganku, apa ini sungguh terjadi, bagaimana mungkin aku dapat mengerti bahasanya, semoga ini tak nyata.
“Pembunuh, kau telah membunuh ayahku, PEMBUNUH…, dengan histeris si lincah tak henti menyebut kata itu.
“Aku tak sengaja, mana ku tahu kalau itu ayahmu”. Sepenuh tenaga aku mencoba membela diri.
”Tidak sengaja katamu, kau pikir aku ini buta”.
”Siapa suruh kalian menggangguku, coba kau ingat kembali siapa yang lebih dulu menghampiri? Apa aku pernah mendatangi tempat kalian, apa aku pernah mencoba mencicipi makanan dan minuman kalian?”balasku dengan nada layaknya rocker. Apa yang sebenarnya kalian cari di tempatku?, apa kalian tidak mengetahui perbedaan diantara kita, atau kalian memang pura-pura tidak tahu. asal kau tahu derajatku lebih tinggi dari kaummu. Apa yang menjadi milikku tidak boleh kalian sentuh sebelum aku membuangnya, terutama makanan dan minuman.”
“Tapi kitakan sesama makhlukNYA”.
“ Tak usah kau ajari aku tentang itu, untuk ayahmu yang telah kuakhiri hidupnya kuhaturkan maaf, tapi itu bukan berarti kita menjadi sederajat.
”Bukankah kita dimataNYA sama”
“Sudah kubilang jangan mengajariku tentang itu, kenapa kau tak bisa menerima takdirmu.”
“Takdir katamu, untuk makan dan minum harus menunggu makanan sisa, dan ayahku mati ditanganmu, itu semua yang kau sebut takdir.”
“Begitulah menurutku.”
“Lalu mengapa itu harus menjadi takdirku, kenapa bukan menjadi milikmu, mengapa harus aku yang mencicipi makanan sisa, mengapa bukan ayahmu yang mati ditanganku?”
“Cukup, aku sudah muak mendengar keluhanmu.”
Sebaiknya segera kuhabisi si lincah yang satu ini, setidaknya itu dapat membantunya agar dapat berkumpul lagi dengan ayahnya. ( Reza )
“Ayo mana lagi yang mau mengakhiri umurnya ditanganku”, lekas kemari. Satu persatu mulai mengejek dengan berputar-putar di sekelilingku, ini dia satu lagi yang akan menggapai ajalnya hari ini, sialan ternyata lincah juga. Terkadang aku bertanya dalam hati apa ini dosa. Pembunuh, itukah julukan yang kusandang saat ini? mungkin bagi mereka aku memang pembunuh. Apa boleh buat semua telah terjadi, tak mungkin dapat kuhidupkan mereka lagi, dan akupun tak mungkin bersahabat atau bersikap ramah, mungkin ini sudah seharusnya terjadi. mungkin mereka memang dilahirkan untuk menguji kesabaranku, mungkin aku dilahirkan untuk menjadi salah satu yang menghabisi kaum mereka. Nah si lincah yang tadi datang lagi, sekarang dia sedang berdiri, berputar-putar di dekat salah satu dari kaumnya yang telah mendahuluinya. Rasa penasaran tiba-tiba menyapa, dengan hati-hati ku coba mengamatinya, apa yang sedang dipikirkannya, apa dia juga merasa kehilangan seperti kaumku yang di tinggal pergi.
“Ayah jangan tinggalkan aku, masih banyak yang belum kau ajarkan padaku”, dengan berlinang airmata si lincah tak henti mencoba memeluk sang ayah. Betapa terkejut aku dibuatnya, apa ini hanya bayanganku, apa ini sungguh terjadi, bagaimana mungkin aku dapat mengerti bahasanya, semoga ini tak nyata.
“Pembunuh, kau telah membunuh ayahku, PEMBUNUH…, dengan histeris si lincah tak henti menyebut kata itu.
“Aku tak sengaja, mana ku tahu kalau itu ayahmu”. Sepenuh tenaga aku mencoba membela diri.
”Tidak sengaja katamu, kau pikir aku ini buta”.
”Siapa suruh kalian menggangguku, coba kau ingat kembali siapa yang lebih dulu menghampiri? Apa aku pernah mendatangi tempat kalian, apa aku pernah mencoba mencicipi makanan dan minuman kalian?”balasku dengan nada layaknya rocker. Apa yang sebenarnya kalian cari di tempatku?, apa kalian tidak mengetahui perbedaan diantara kita, atau kalian memang pura-pura tidak tahu. asal kau tahu derajatku lebih tinggi dari kaummu. Apa yang menjadi milikku tidak boleh kalian sentuh sebelum aku membuangnya, terutama makanan dan minuman.”
“Tapi kitakan sesama makhlukNYA”.
“ Tak usah kau ajari aku tentang itu, untuk ayahmu yang telah kuakhiri hidupnya kuhaturkan maaf, tapi itu bukan berarti kita menjadi sederajat.
”Bukankah kita dimataNYA sama”
“Sudah kubilang jangan mengajariku tentang itu, kenapa kau tak bisa menerima takdirmu.”
“Takdir katamu, untuk makan dan minum harus menunggu makanan sisa, dan ayahku mati ditanganmu, itu semua yang kau sebut takdir.”
“Begitulah menurutku.”
“Lalu mengapa itu harus menjadi takdirku, kenapa bukan menjadi milikmu, mengapa harus aku yang mencicipi makanan sisa, mengapa bukan ayahmu yang mati ditanganku?”
“Cukup, aku sudah muak mendengar keluhanmu.”
Sebaiknya segera kuhabisi si lincah yang satu ini, setidaknya itu dapat membantunya agar dapat berkumpul lagi dengan ayahnya. ( Reza )
“Sori!”
Pagi ini cuaca begitu dingin, segera kupalingkan kepala kearah samping kanan tempat tidurku. Jam dikamar menunjukkan pukul 07.00 WIB, rasa malas mulai menghinggapi & menyelimuti otak ini. Kugerakkan kaki untuk segera turun dari tempat tidur. Rasa kantuk masih terasa………, namun ku-kerahkan seluruh tenaga dan kualirkan ke kedua mata. Perlahan-lahan keduanya mulai terbuka lebar seperti bunga yang mekar di pagi hari. Kubuka pintu kamar & menoleh kearah jendela, masih ada sisa-sisa embun di kaca jendela, matahari belum juga datang menyapa. Hari ini untuk kedua kalinya Ia terlambat. apa mungkin Ia masih tidur, atau rasa malaspun menghinggapinya. Darah terasa membeku di otak ketika aku menginjakkan kaki di kamar mandi, ingin berteriak sekuat-kuatnya. Tiba-tiba aku teringat kembali tentang mimpi yang kualami semalam. Jauh dari kata indah, ini untuk kesekian kalinya aku mengalami mimpi yang serupa. Terbangun dengan penuh pertanyaan. Apa mungkin ini hukuman yang kuterima akibat perbuatanku dulu. Terkadang aku takut untuk memejamkan mata, karena ia selalu menghampiri. Perang mulai terjadi kembali, bendera mulai dikibarkan, masing-masing kubu mulai menyusun kekuatan. Mencari titik lemah lawan dan siap untuk menghancurkan. Kenangan dengan senjata racun manisnya mencoba berbincang dengan hati & otak ini. Tak ada rasa lelah, terus mencoba memutarkan kembali yang pernah diperankan olehku. Aku memang tak berdaya untuk menghindarinya, terkadang aku menyerah & membiarkannya menguasai hati ini, namun logika yang tak kalah gigih, terus berjuang untuk membebaskanku.
“ siapa di dalam?”, cepat dong.
“bentar’ balasku dengan suara yang meninggi”
“ngapain aja sih”, Rudi teman kostku segera menyerbu masuk begitu pintu kubuka.
Dinginnya air yang kubagi di wajah tak juga menghilangkan kenangan akan mimpi itu.
Dengan langkah yang tak menentu aku kembali ke kamar, seperti ritual wajib, tape kunyalakan dengan sekeras-kerasnya seolah mengumumkan pada dunia bahwa hari ini aku masih bersamanya. Perlahan-lahan aku mulai memberi perintah pada tangan, digapainya gelas dan ditaburi oleh serbuk hitam yang aromanya begitu menggoda. serbuk kristal putih dikumpulkan diatasnya menunggu sapuan air panas. Satu demi satu dilakukan dengan teliti dan beraturan seperti yang dilakukan setiap pagi. Begitu nikmat hidup ini, apa jadinya hidup tanpa isi gelas ini. Kunyalakan sebatang rokok, menghirup dalam-dalam & menghirupnya bagaikan sebatang yang akhir. Pagi ini mata kuliah yang paling malas kuhadiri dihadirkan di kelasku.
“SHIIT”
“Ngapain lo, pagi gini udah maki-maki”, kata Rudi
“kamu yang ngapain, nguping ya?” balasku masih dengan kesal
“nggak sarapan dulu, den?” tanya Bi Imas
Bi Imas seorang pengusaha Warteg, tempat kubiasa mampir untuk mengisi perut. masakan yang dihidangkan mampu menghilangkan kenangan lidah ini akan masakan Bunda. Sambal yang dibuatnya jauh dari lidah jawa sempat aku mencurigainya.
“Bi, ayo ngaku kampung bibi dimana? tanyaku penuh selidik.
“bibi dari tegal, den” jawabnya dengan mimik heran.
Bahkan akupun ikut heran, kenapa begitu bodohnya pertanyaan yang kulontarkan. Sialan, ini semua karena sambal.
“silahkan tugasnya kumpulkan” kata wajah yang selama ini kuhindari.
Untung sudah kukerjakan, thanks to my friend Andi dalam hati aku berucap seperti sedang menerima penghargaan. Tiba-tiba terkejut aku oleh suara yang memanggil-manggil namaku.
“iya pak, hadir” jawabku sambil menghunuskan telunjuk ke atas.
Sungguh beda dosen yang satu ini, cara-cara SMA masih dipakai saja. Aku sekarang semester dua dan selama ini hanya beberapa kepala saja yang terekam dikepalaku.
“Den”, terdengar lagi nama itu, nama yang diberikan kedua orang tuaku, Dendra.
Kupalingkan wajah mencari datangnya suara yang memanggil, Ruli dengan sigap mendekati. Mulai dia menceritakan tentang seorang dara dengan menggebu-gebu. “lalu”, entah sudah berapa lalu yang terlontar dari mulutku.
Begitu bahagia wajah didepanku. Kenangan kecilku mulai berputar kembali, aku ingat wajah bahagia itu pernah kumiliki & menemaniku hingga aku beranjak remaja, begitu bebas, sebebas-bebasnya tak ada yang menghalangi. Berbuat semaunya, semua untuk diri yang disebut aku, mutlak.
Terkadang aku sering berpikir untuk apa yang kulakukan ini. Memasuki usia 17, penjara & perangkap mulai dibangun didalam jiwa, otak.
Ketika berlari seringkali kuterbentur tembok yang entah darimana datangnya.
“Den, loe masih disinikan?” Tanya Ruli menyeretku kembali kehadapannya.
“iya,sorry” balasku dengan peluh di dahi .
Kembali ia menceritakan tentang sang dara. Dengan kata-kata yang membentuk garis demi garis, mulai lahir sebuah wajah yang manis setidaknya itu yang terbayang olehku.
“kamu kenal dimana?” tanyaku
“dikelas”
“iya, dikelas mana?”
“kelas kita”
“kelas kita, memangnya . . . ?”
“makanya kalau dikelas lihat kiri kanan dong”, ejeknya.
Namanya Elma, anak Riau, tinggi, putih dengan beberapa jerawat menghiasi wajah, begitulah laporan yang kuterima dari Ruli. Dalam hati aku mengaguminya, begitu gigih orang satu ini, apa tak ada lagi yang dijadikan pertimbangan. Apa begitu yang dinamakan cinta, bersuara sekeras-kerasnya, berucap seribu kata hanya untuk sebuah sosok.
Semakin lama semakin penasaran ku dibuatnya, dicekokinya aku dengan kata-kata manis yang membentuk lukisan sang dara di otak.
“sialan, cukup! Tak takut kau kalau akupun nanti mengaguminya”
“kalau sekedar mengagumi tak ada salahnya, asal. . .”
“asal apa?” tanyaku
“jangan sampai mencintai” katanya dengan mimik serius
Tampaknya temanku yang satu ini telah terkena virus yang sangat mematikan & sejauh ini belum ditemukan obatnya. Padahal penyakit yang satu ini telah ada disaat manusia diciptakan, unik memang. Entah apa yang harus kulakukan untuk menolongnya. Wajah itu tak mencerminkan sakit akibat dari penyakit yang diidapnya. Senyumanlah yang menghiasi, bola mata yang berbinar-binar & merekahnya bibir hitam mendorong kedua belah pipi.
Tanpa kusadari kenangan yang menyesakkan telah pergi dariku.
“besok gue kenalin ama loe” kata Ruli
Matahari udah pulang ke kandang, bintang-bintang mulai berlarian & menghiasi langit. Dari jauh tampak olehku bangunan berwarna hijau yang selama setahun ini kujadikan kandangku. Kubuka pintu & langsung merebahkan diri.
“ sori Rul, rasanya akupun mulai mencintai dia”.
( Reza)
“ siapa di dalam?”, cepat dong.
“bentar’ balasku dengan suara yang meninggi”
“ngapain aja sih”, Rudi teman kostku segera menyerbu masuk begitu pintu kubuka.
Dinginnya air yang kubagi di wajah tak juga menghilangkan kenangan akan mimpi itu.
Dengan langkah yang tak menentu aku kembali ke kamar, seperti ritual wajib, tape kunyalakan dengan sekeras-kerasnya seolah mengumumkan pada dunia bahwa hari ini aku masih bersamanya. Perlahan-lahan aku mulai memberi perintah pada tangan, digapainya gelas dan ditaburi oleh serbuk hitam yang aromanya begitu menggoda. serbuk kristal putih dikumpulkan diatasnya menunggu sapuan air panas. Satu demi satu dilakukan dengan teliti dan beraturan seperti yang dilakukan setiap pagi. Begitu nikmat hidup ini, apa jadinya hidup tanpa isi gelas ini. Kunyalakan sebatang rokok, menghirup dalam-dalam & menghirupnya bagaikan sebatang yang akhir. Pagi ini mata kuliah yang paling malas kuhadiri dihadirkan di kelasku.
“SHIIT”
“Ngapain lo, pagi gini udah maki-maki”, kata Rudi
“kamu yang ngapain, nguping ya?” balasku masih dengan kesal
“nggak sarapan dulu, den?” tanya Bi Imas
Bi Imas seorang pengusaha Warteg, tempat kubiasa mampir untuk mengisi perut. masakan yang dihidangkan mampu menghilangkan kenangan lidah ini akan masakan Bunda. Sambal yang dibuatnya jauh dari lidah jawa sempat aku mencurigainya.
“Bi, ayo ngaku kampung bibi dimana? tanyaku penuh selidik.
“bibi dari tegal, den” jawabnya dengan mimik heran.
Bahkan akupun ikut heran, kenapa begitu bodohnya pertanyaan yang kulontarkan. Sialan, ini semua karena sambal.
“silahkan tugasnya kumpulkan” kata wajah yang selama ini kuhindari.
Untung sudah kukerjakan, thanks to my friend Andi dalam hati aku berucap seperti sedang menerima penghargaan. Tiba-tiba terkejut aku oleh suara yang memanggil-manggil namaku.
“iya pak, hadir” jawabku sambil menghunuskan telunjuk ke atas.
Sungguh beda dosen yang satu ini, cara-cara SMA masih dipakai saja. Aku sekarang semester dua dan selama ini hanya beberapa kepala saja yang terekam dikepalaku.
“Den”, terdengar lagi nama itu, nama yang diberikan kedua orang tuaku, Dendra.
Kupalingkan wajah mencari datangnya suara yang memanggil, Ruli dengan sigap mendekati. Mulai dia menceritakan tentang seorang dara dengan menggebu-gebu. “lalu”, entah sudah berapa lalu yang terlontar dari mulutku.
Begitu bahagia wajah didepanku. Kenangan kecilku mulai berputar kembali, aku ingat wajah bahagia itu pernah kumiliki & menemaniku hingga aku beranjak remaja, begitu bebas, sebebas-bebasnya tak ada yang menghalangi. Berbuat semaunya, semua untuk diri yang disebut aku, mutlak.
Terkadang aku sering berpikir untuk apa yang kulakukan ini. Memasuki usia 17, penjara & perangkap mulai dibangun didalam jiwa, otak.
Ketika berlari seringkali kuterbentur tembok yang entah darimana datangnya.
“Den, loe masih disinikan?” Tanya Ruli menyeretku kembali kehadapannya.
“iya,sorry” balasku dengan peluh di dahi .
Kembali ia menceritakan tentang sang dara. Dengan kata-kata yang membentuk garis demi garis, mulai lahir sebuah wajah yang manis setidaknya itu yang terbayang olehku.
“kamu kenal dimana?” tanyaku
“dikelas”
“iya, dikelas mana?”
“kelas kita”
“kelas kita, memangnya . . . ?”
“makanya kalau dikelas lihat kiri kanan dong”, ejeknya.
Namanya Elma, anak Riau, tinggi, putih dengan beberapa jerawat menghiasi wajah, begitulah laporan yang kuterima dari Ruli. Dalam hati aku mengaguminya, begitu gigih orang satu ini, apa tak ada lagi yang dijadikan pertimbangan. Apa begitu yang dinamakan cinta, bersuara sekeras-kerasnya, berucap seribu kata hanya untuk sebuah sosok.
Semakin lama semakin penasaran ku dibuatnya, dicekokinya aku dengan kata-kata manis yang membentuk lukisan sang dara di otak.
“sialan, cukup! Tak takut kau kalau akupun nanti mengaguminya”
“kalau sekedar mengagumi tak ada salahnya, asal. . .”
“asal apa?” tanyaku
“jangan sampai mencintai” katanya dengan mimik serius
Tampaknya temanku yang satu ini telah terkena virus yang sangat mematikan & sejauh ini belum ditemukan obatnya. Padahal penyakit yang satu ini telah ada disaat manusia diciptakan, unik memang. Entah apa yang harus kulakukan untuk menolongnya. Wajah itu tak mencerminkan sakit akibat dari penyakit yang diidapnya. Senyumanlah yang menghiasi, bola mata yang berbinar-binar & merekahnya bibir hitam mendorong kedua belah pipi.
Tanpa kusadari kenangan yang menyesakkan telah pergi dariku.
“besok gue kenalin ama loe” kata Ruli
Matahari udah pulang ke kandang, bintang-bintang mulai berlarian & menghiasi langit. Dari jauh tampak olehku bangunan berwarna hijau yang selama setahun ini kujadikan kandangku. Kubuka pintu & langsung merebahkan diri.
“ sori Rul, rasanya akupun mulai mencintai dia”.
( Reza)
TAK BERUJUNG PANGKAL
Seraut wajah girang menantang di pelupuk mata. Yang ia tau hari itu belum lagi dimulai.
“kenapa kau tersenyum, apa yang kau rasakan?, tolong ceritakan”
Wajah itu hanya menampilkan ekspresi yang sama, yang mendatangkan kekesalan dan tanya, jangan – jangan dia menertawakanku???
“hentikan senyumanmu!” makiku
“memangnya apa yang kau rasakan dengan senyumanku, tolong ceritakan!”
Tiba – tiba badan ini terseret menjauh, semakin menjauh. senyuman itupun hilang dari pelupuk mata. Seorang pria terlihat berjalan perlahan dengan kepala yang menunduk, matanya dengan cermat memandangi setiap jejak langkah yang dilalui. Entah apa yang dicarinya. Diseberang jalan wajahku terpampang dengan penuh selidik. Belum lagi aku memutuskan untuk menghampiri pria itu badan ini kembali terseret ke tempat yang tak bisa direka.
“ mas, aku pengen kamu lekas melamar aku”
“ itu nanti saja diomonginnya” rayuku
Ketegangan mulai menguasai batang pusakaku. Tangan ini langsung saja meluncur dengan penuh ambisi untuk segera memasuki garasi.
“ mas,kamu dengar nggak sih yang aku omongin?”
“ tentu saja aku dengar, tapi saat ini aku hanya ingin menikmati ketegangan yang lebih, baru habis kalimat itu aku ucapkan, lagi – lagi sosok itu menghilang. Di samping taman yang rimbun sesosok pria sedang terbaring pulas dengan muntahan isi perut yang menyengat. Dari balik mobil terdengar canda tawa seorang gadis yang semalam keperawanannya telah terengut,berkat kata – kata manis yang meracuni logika.
“ kamu tenang saja, aku nggak akan tinggalin kamu” ucapku sebagai rasa terima kasih dan rasa syukur atas kesuksesan semalam. Matahari mulai terasa menyengat dan menambah aroma muntahan semakin kuat tercium. Pemuda itu terbangun dengan kebingungan.
” Aku di mana?” tanyaku setengah terbangun, mengapa aku berakhir disini?, dimana pria yang tadi berjalan sambil menunduk?, kemana perginya gadis yang minta kulamar?, lalu apa yang dilakukan gadis yang menyerahkan perawannya padaku semalam tadi??? hari belum lagi dimulai dan aku hanya berusaha tersenyum dengan tenggorokan yang terasa pahit dan aroma menyengat dengan bekal tanya. Tapi hari ini belum lagi dimulai.
( Reza )
“kenapa kau tersenyum, apa yang kau rasakan?, tolong ceritakan”
Wajah itu hanya menampilkan ekspresi yang sama, yang mendatangkan kekesalan dan tanya, jangan – jangan dia menertawakanku???
“hentikan senyumanmu!” makiku
“memangnya apa yang kau rasakan dengan senyumanku, tolong ceritakan!”
Tiba – tiba badan ini terseret menjauh, semakin menjauh. senyuman itupun hilang dari pelupuk mata. Seorang pria terlihat berjalan perlahan dengan kepala yang menunduk, matanya dengan cermat memandangi setiap jejak langkah yang dilalui. Entah apa yang dicarinya. Diseberang jalan wajahku terpampang dengan penuh selidik. Belum lagi aku memutuskan untuk menghampiri pria itu badan ini kembali terseret ke tempat yang tak bisa direka.
“ mas, aku pengen kamu lekas melamar aku”
“ itu nanti saja diomonginnya” rayuku
Ketegangan mulai menguasai batang pusakaku. Tangan ini langsung saja meluncur dengan penuh ambisi untuk segera memasuki garasi.
“ mas,kamu dengar nggak sih yang aku omongin?”
“ tentu saja aku dengar, tapi saat ini aku hanya ingin menikmati ketegangan yang lebih, baru habis kalimat itu aku ucapkan, lagi – lagi sosok itu menghilang. Di samping taman yang rimbun sesosok pria sedang terbaring pulas dengan muntahan isi perut yang menyengat. Dari balik mobil terdengar canda tawa seorang gadis yang semalam keperawanannya telah terengut,berkat kata – kata manis yang meracuni logika.
“ kamu tenang saja, aku nggak akan tinggalin kamu” ucapku sebagai rasa terima kasih dan rasa syukur atas kesuksesan semalam. Matahari mulai terasa menyengat dan menambah aroma muntahan semakin kuat tercium. Pemuda itu terbangun dengan kebingungan.
” Aku di mana?” tanyaku setengah terbangun, mengapa aku berakhir disini?, dimana pria yang tadi berjalan sambil menunduk?, kemana perginya gadis yang minta kulamar?, lalu apa yang dilakukan gadis yang menyerahkan perawannya padaku semalam tadi??? hari belum lagi dimulai dan aku hanya berusaha tersenyum dengan tenggorokan yang terasa pahit dan aroma menyengat dengan bekal tanya. Tapi hari ini belum lagi dimulai.
( Reza )
Langganan:
Postingan (Atom)

