Rabu, 22 Desember 2010

“TAKDIR”

Sialan, entah apa yang terjadi. Aku perhatikan beberapa hari ini mereka semakin membanyak, entah dari mana datangnya. Memang ini bukan pertama kalinya mereka berbondong – bondong menghampiri, ini sangat menggangu bagiku. Pernah aku tanpa sengaja membunuh salah satu dari mereka, sungguh itu murni ketidaksengajaan. Untungnya tak ada yang menuntut balas, mungkin. Aku tahu mereka juga makhluk ciptaanNYA, tapi ini sungguh menggangguku. Mereka berkeliaran seenaknya, tanpa permisi, sungguh tak ada sopan santun pada mereka, entah apa yang diajarkan kedua orang tuanya. Dengan lagak yang sok cuek memasuki rumahku, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Mungkin aku yang kurang tegas dalam bersikap, tapi mestinya merekapun menghargaiku, jangan mentang-mentang sesama makhluk TUHAN lalu bisa seenaknya. Apa mereka tak tahu kalau aku ini dianugerahi derajat yang lebih. Nah ini salah satu contoh betapa kurang ajarnya mereka, bahkan makanan dan minumanku juga mau mereka cicipi. Mampus, biar tahu rasa.

“Ayo mana lagi yang mau mengakhiri umurnya ditanganku”, lekas kemari. Satu persatu mulai mengejek dengan berputar-putar di sekelilingku, ini dia satu lagi yang akan menggapai ajalnya hari ini, sialan ternyata lincah juga. Terkadang aku bertanya dalam hati apa ini dosa. Pembunuh, itukah julukan yang kusandang saat ini? mungkin bagi mereka aku memang pembunuh. Apa boleh buat semua telah terjadi, tak mungkin dapat kuhidupkan mereka lagi, dan akupun tak mungkin bersahabat atau bersikap ramah, mungkin ini sudah seharusnya terjadi. mungkin mereka memang dilahirkan untuk menguji kesabaranku, mungkin aku dilahirkan untuk menjadi salah satu yang menghabisi kaum mereka. Nah si lincah yang tadi datang lagi, sekarang dia sedang berdiri, berputar-putar di dekat salah satu dari kaumnya yang telah mendahuluinya. Rasa penasaran tiba-tiba menyapa, dengan hati-hati ku coba mengamatinya, apa yang sedang dipikirkannya, apa dia juga merasa kehilangan seperti kaumku yang di tinggal pergi.

“Ayah jangan tinggalkan aku, masih banyak yang belum kau ajarkan padaku”, dengan berlinang airmata si lincah tak henti mencoba memeluk sang ayah. Betapa terkejut aku dibuatnya, apa ini hanya bayanganku, apa ini sungguh terjadi, bagaimana mungkin aku dapat mengerti bahasanya, semoga ini tak nyata.
“Pembunuh, kau telah membunuh ayahku, PEMBUNUH…, dengan histeris si lincah tak henti menyebut kata itu.
“Aku tak sengaja, mana ku tahu kalau itu ayahmu”. Sepenuh tenaga aku mencoba membela diri.
”Tidak sengaja katamu, kau pikir aku ini buta”.
”Siapa suruh kalian menggangguku, coba kau ingat kembali siapa yang lebih dulu menghampiri? Apa aku pernah mendatangi tempat kalian, apa aku pernah mencoba mencicipi makanan dan minuman kalian?”balasku dengan nada layaknya rocker. Apa yang sebenarnya kalian cari di tempatku?, apa kalian tidak mengetahui perbedaan diantara kita, atau kalian memang pura-pura tidak tahu. asal kau tahu derajatku lebih tinggi dari kaummu. Apa yang menjadi milikku tidak boleh kalian sentuh sebelum aku membuangnya, terutama makanan dan minuman.”
“Tapi kitakan sesama makhlukNYA”.
“ Tak usah kau ajari aku tentang itu, untuk ayahmu yang telah kuakhiri hidupnya kuhaturkan maaf, tapi itu bukan berarti kita menjadi sederajat.
”Bukankah kita dimataNYA sama”
“Sudah kubilang jangan mengajariku tentang itu, kenapa kau tak bisa menerima takdirmu.”
“Takdir katamu, untuk makan dan minum harus menunggu makanan sisa, dan ayahku mati ditanganmu, itu semua yang kau sebut takdir.”
“Begitulah menurutku.”
“Lalu mengapa itu harus menjadi takdirku, kenapa bukan menjadi milikmu, mengapa harus aku yang mencicipi makanan sisa, mengapa bukan ayahmu yang mati ditanganku?”
“Cukup, aku sudah muak mendengar keluhanmu.”
Sebaiknya segera kuhabisi si lincah yang satu ini, setidaknya itu dapat membantunya agar dapat berkumpul lagi dengan ayahnya. ( Reza )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar