Rabu, 22 Desember 2010

Zombie

Ruangan itu terlalu kecil untuk ditempati seorang penguasa yang cukup disegani. Bukannya ingin hidup secara sederhana dan memberikan contoh bagi warganya tapi ini adalah tindakan penyelamatan orang – orang kepercayaan yang begitu mencintai pemimpin mereka. Ruangan ini sudah sejak lama diciptakan untuk menyelamatkan pemimpin mereka dari zombie yang sejak lama pula mengincarnya. Dibelahan dunia lain seorang zombie telah duduk bersantai dengan pengawalan yang sangat ketat bahkan seekor lalat tidak akan luput dari pengawasan mata para pengawal.
“ Bagaimana apa sudah ada kabar dimana tempat persembunyian si Brewok?” tanya zombie kepada kepala militernya, sambil meneguk segelas anggur merah.
“ Beberapa tempat yang dicurigai menjadi tempat persembunyian telah diratakan dengan tanah tapi bangkainya belum ditemukan”
Di ruangan yang megah yang dihiasi warna putih dari luar hingga dalam dan menjadikan warna itu menjadi nama gedung tempat berdaung para zombie yang mengontrol kebijakkan dunia duduk pula perdana menteri, seorang zombie betina yang sangat kejam.
“Bagaimana menurut perdana menteri?” Tanya raja zombie
“Teruskan misi, dan kalau perlu ratakan semua gedung yang ada di sana, jangan sampai ada lubang tikus yang terlewatkan” jawab perdana menteri
“Baiklah kalau begitu, tapi apa keberadaan warga sipil harus diperhatikan”tanya kepala militer
“Jangan biarkan keberadaan mereka menghalangi misi” balas perdana menteri dengan mimik yang semakin menunjukkan betapa buruk wajah yang dimilikinya.
Di beberapa kunjungannya ke negara – negara ‘jajahannya’ terutama yang berada di benua Asia sang perdana menteri negara zombie ini seringkali mencoba mengubah bentuk wajah yang buruk rupa dengan sering tersenyum dan mengatakan hal – hal baik dengan maksud menidurkan warga negara yang menjadi ‘jajahan’ negaranya. Taktik ini memang telah menjadi prosedur standar bagi setiap penjajah. Mengambil hati secara halus akan diterapkan terlebih dahulu selama negara ‘jajahannya’ masih bisa dikendalikan. Negara tempat Asep berdaung merupakan salah satu ‘jajahan’ negara zombie. Sejak merdeka dari jajahan negeri kincir angin, negara Asep yang merasa bangga dengan kebebasannya semakin terikat kaki dan tangan bahkan lidahnya-pun hanya dapat mengeluarkan kebijakan yang disetujui oleh raja zombie. Secara fisik dan kasat mata negara Asep tak terlihat layaknya negara jajahan. Gedung yang menjulang tinggi dan megah sudah tak terhitung lagi dengan jari, mobil keluaran terbaru dari merek apapun dapat dilihat di jalanan negara ini.
“Sep, tau nggak barusan berita di TV tentang negara si Brewok?”
“Memangnya kenapa, apa si Breyok,ops Brewok udah ketangkap ama pasukan zombie?”
“Belum sih. Gila, aku sampai merinding ngeliatnya. Tambah gersang aja negara si Brewok, udah panas terus setiap hari malah di bombardir” kata Malih teman senasib Asep yang belum menyadari bahwa nasib mereka sama dengan si Brewok. Namun hal ini pasti disanggah Brewok dan pengikutnya karena mereka melawan setiap bentuk penjajahan zombie di negaranya.
Telepon berwarna merah terang di ruang raja zombie menjerit – jerit untuk digenggam.
“Halo, selamat malam Pak, maaf saya menggangu” terdengar suara kepala militer
“ Tidak apa – apa. Saya belum tidur kebetulan sekarang perdana menteri sedang bersama saya. Kami sedang menonton acara Jack ass. O, iya ada apa kamu menghubungi saya?”
“Mengenai si Brewok, kami telah menemukannya dalam keadaan hidup di sebuah ruang bawah tanah di desa kelahirannya”
“Bagus, ucapkan selamat dari saya bagi para pasukan yang telah berhasil menangkap Brewok dan kamu atur pengiriman rasa terima kasih saya bagi mereka”
“Maksud bapak bintang penghargaan?”
“Ini yang lebih mereka butuhkan daripada bintang penghargaan. Kirim beberapa betina untuk dijadikan santapan mereka” Telepon lalu ditutup, raja dan perdana menteri saling melemparkan senyuman. Keduanya lalu terbahak – bahak kegirangan. Dibelahan dunia lain para pemimpin di negara Asep pun terbahak – bahak menikmati segala bentuk penjajahan. ( Reza )

“TAKDIR”

Sialan, entah apa yang terjadi. Aku perhatikan beberapa hari ini mereka semakin membanyak, entah dari mana datangnya. Memang ini bukan pertama kalinya mereka berbondong – bondong menghampiri, ini sangat menggangu bagiku. Pernah aku tanpa sengaja membunuh salah satu dari mereka, sungguh itu murni ketidaksengajaan. Untungnya tak ada yang menuntut balas, mungkin. Aku tahu mereka juga makhluk ciptaanNYA, tapi ini sungguh menggangguku. Mereka berkeliaran seenaknya, tanpa permisi, sungguh tak ada sopan santun pada mereka, entah apa yang diajarkan kedua orang tuanya. Dengan lagak yang sok cuek memasuki rumahku, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Mungkin aku yang kurang tegas dalam bersikap, tapi mestinya merekapun menghargaiku, jangan mentang-mentang sesama makhluk TUHAN lalu bisa seenaknya. Apa mereka tak tahu kalau aku ini dianugerahi derajat yang lebih. Nah ini salah satu contoh betapa kurang ajarnya mereka, bahkan makanan dan minumanku juga mau mereka cicipi. Mampus, biar tahu rasa.

“Ayo mana lagi yang mau mengakhiri umurnya ditanganku”, lekas kemari. Satu persatu mulai mengejek dengan berputar-putar di sekelilingku, ini dia satu lagi yang akan menggapai ajalnya hari ini, sialan ternyata lincah juga. Terkadang aku bertanya dalam hati apa ini dosa. Pembunuh, itukah julukan yang kusandang saat ini? mungkin bagi mereka aku memang pembunuh. Apa boleh buat semua telah terjadi, tak mungkin dapat kuhidupkan mereka lagi, dan akupun tak mungkin bersahabat atau bersikap ramah, mungkin ini sudah seharusnya terjadi. mungkin mereka memang dilahirkan untuk menguji kesabaranku, mungkin aku dilahirkan untuk menjadi salah satu yang menghabisi kaum mereka. Nah si lincah yang tadi datang lagi, sekarang dia sedang berdiri, berputar-putar di dekat salah satu dari kaumnya yang telah mendahuluinya. Rasa penasaran tiba-tiba menyapa, dengan hati-hati ku coba mengamatinya, apa yang sedang dipikirkannya, apa dia juga merasa kehilangan seperti kaumku yang di tinggal pergi.

“Ayah jangan tinggalkan aku, masih banyak yang belum kau ajarkan padaku”, dengan berlinang airmata si lincah tak henti mencoba memeluk sang ayah. Betapa terkejut aku dibuatnya, apa ini hanya bayanganku, apa ini sungguh terjadi, bagaimana mungkin aku dapat mengerti bahasanya, semoga ini tak nyata.
“Pembunuh, kau telah membunuh ayahku, PEMBUNUH…, dengan histeris si lincah tak henti menyebut kata itu.
“Aku tak sengaja, mana ku tahu kalau itu ayahmu”. Sepenuh tenaga aku mencoba membela diri.
”Tidak sengaja katamu, kau pikir aku ini buta”.
”Siapa suruh kalian menggangguku, coba kau ingat kembali siapa yang lebih dulu menghampiri? Apa aku pernah mendatangi tempat kalian, apa aku pernah mencoba mencicipi makanan dan minuman kalian?”balasku dengan nada layaknya rocker. Apa yang sebenarnya kalian cari di tempatku?, apa kalian tidak mengetahui perbedaan diantara kita, atau kalian memang pura-pura tidak tahu. asal kau tahu derajatku lebih tinggi dari kaummu. Apa yang menjadi milikku tidak boleh kalian sentuh sebelum aku membuangnya, terutama makanan dan minuman.”
“Tapi kitakan sesama makhlukNYA”.
“ Tak usah kau ajari aku tentang itu, untuk ayahmu yang telah kuakhiri hidupnya kuhaturkan maaf, tapi itu bukan berarti kita menjadi sederajat.
”Bukankah kita dimataNYA sama”
“Sudah kubilang jangan mengajariku tentang itu, kenapa kau tak bisa menerima takdirmu.”
“Takdir katamu, untuk makan dan minum harus menunggu makanan sisa, dan ayahku mati ditanganmu, itu semua yang kau sebut takdir.”
“Begitulah menurutku.”
“Lalu mengapa itu harus menjadi takdirku, kenapa bukan menjadi milikmu, mengapa harus aku yang mencicipi makanan sisa, mengapa bukan ayahmu yang mati ditanganku?”
“Cukup, aku sudah muak mendengar keluhanmu.”
Sebaiknya segera kuhabisi si lincah yang satu ini, setidaknya itu dapat membantunya agar dapat berkumpul lagi dengan ayahnya. ( Reza )

“Sori!”

Pagi ini cuaca begitu dingin, segera kupalingkan kepala kearah samping kanan tempat tidurku. Jam dikamar menunjukkan pukul 07.00 WIB, rasa malas mulai menghinggapi & menyelimuti otak ini. Kugerakkan kaki untuk segera turun dari tempat tidur. Rasa kantuk masih terasa………, namun ku-kerahkan seluruh tenaga dan kualirkan ke kedua mata. Perlahan-lahan keduanya mulai terbuka lebar seperti bunga yang mekar di pagi hari. Kubuka pintu kamar & menoleh kearah jendela, masih ada sisa-sisa embun di kaca jendela, matahari belum juga datang menyapa. Hari ini untuk kedua kalinya Ia terlambat. apa mungkin Ia masih tidur, atau rasa malaspun menghinggapinya. Darah terasa membeku di otak ketika aku menginjakkan kaki di kamar mandi, ingin berteriak sekuat-kuatnya. Tiba-tiba aku teringat kembali tentang mimpi yang kualami semalam. Jauh dari kata indah, ini untuk kesekian kalinya aku mengalami mimpi yang serupa. Terbangun dengan penuh pertanyaan. Apa mungkin ini hukuman yang kuterima akibat perbuatanku dulu. Terkadang aku takut untuk memejamkan mata, karena ia selalu menghampiri. Perang mulai terjadi kembali, bendera mulai dikibarkan, masing-masing kubu mulai menyusun kekuatan. Mencari titik lemah lawan dan siap untuk menghancurkan. Kenangan dengan senjata racun manisnya mencoba berbincang dengan hati & otak ini. Tak ada rasa lelah, terus mencoba memutarkan kembali yang pernah diperankan olehku. Aku memang tak berdaya untuk menghindarinya, terkadang aku menyerah & membiarkannya menguasai hati ini, namun logika yang tak kalah gigih, terus berjuang untuk membebaskanku.
“ siapa di dalam?”, cepat dong.
“bentar’ balasku dengan suara yang meninggi”
“ngapain aja sih”, Rudi teman kostku segera menyerbu masuk begitu pintu kubuka.
Dinginnya air yang kubagi di wajah tak juga menghilangkan kenangan akan mimpi itu.
Dengan langkah yang tak menentu aku kembali ke kamar, seperti ritual wajib, tape kunyalakan dengan sekeras-kerasnya seolah mengumumkan pada dunia bahwa hari ini aku masih bersamanya. Perlahan-lahan aku mulai memberi perintah pada tangan, digapainya gelas dan ditaburi oleh serbuk hitam yang aromanya begitu menggoda. serbuk kristal putih dikumpulkan diatasnya menunggu sapuan air panas. Satu demi satu dilakukan dengan teliti dan beraturan seperti yang dilakukan setiap pagi. Begitu nikmat hidup ini, apa jadinya hidup tanpa isi gelas ini. Kunyalakan sebatang rokok, menghirup dalam-dalam & menghirupnya bagaikan sebatang yang akhir. Pagi ini mata kuliah yang paling malas kuhadiri dihadirkan di kelasku.
“SHIIT”
“Ngapain lo, pagi gini udah maki-maki”, kata Rudi
“kamu yang ngapain, nguping ya?” balasku masih dengan kesal
“nggak sarapan dulu, den?” tanya Bi Imas
Bi Imas seorang pengusaha Warteg, tempat kubiasa mampir untuk mengisi perut. masakan yang dihidangkan mampu menghilangkan kenangan lidah ini akan masakan Bunda. Sambal yang dibuatnya jauh dari lidah jawa sempat aku mencurigainya.
“Bi, ayo ngaku kampung bibi dimana? tanyaku penuh selidik.
“bibi dari tegal, den” jawabnya dengan mimik heran.
Bahkan akupun ikut heran, kenapa begitu bodohnya pertanyaan yang kulontarkan. Sialan, ini semua karena sambal.
“silahkan tugasnya kumpulkan” kata wajah yang selama ini kuhindari.
Untung sudah kukerjakan, thanks to my friend Andi dalam hati aku berucap seperti sedang menerima penghargaan. Tiba-tiba terkejut aku oleh suara yang memanggil-manggil namaku.
“iya pak, hadir” jawabku sambil menghunuskan telunjuk ke atas.
Sungguh beda dosen yang satu ini, cara-cara SMA masih dipakai saja. Aku sekarang semester dua dan selama ini hanya beberapa kepala saja yang terekam dikepalaku.
“Den”, terdengar lagi nama itu, nama yang diberikan kedua orang tuaku, Dendra.
Kupalingkan wajah mencari datangnya suara yang memanggil, Ruli dengan sigap mendekati. Mulai dia menceritakan tentang seorang dara dengan menggebu-gebu. “lalu”, entah sudah berapa lalu yang terlontar dari mulutku.
Begitu bahagia wajah didepanku. Kenangan kecilku mulai berputar kembali, aku ingat wajah bahagia itu pernah kumiliki & menemaniku hingga aku beranjak remaja, begitu bebas, sebebas-bebasnya tak ada yang menghalangi. Berbuat semaunya, semua untuk diri yang disebut aku, mutlak.
Terkadang aku sering berpikir untuk apa yang kulakukan ini. Memasuki usia 17, penjara & perangkap mulai dibangun didalam jiwa, otak.
Ketika berlari seringkali kuterbentur tembok yang entah darimana datangnya.
“Den, loe masih disinikan?” Tanya Ruli menyeretku kembali kehadapannya.
“iya,sorry” balasku dengan peluh di dahi .
Kembali ia menceritakan tentang sang dara. Dengan kata-kata yang membentuk garis demi garis, mulai lahir sebuah wajah yang manis setidaknya itu yang terbayang olehku.
“kamu kenal dimana?” tanyaku
“dikelas”
“iya, dikelas mana?”
“kelas kita”
“kelas kita, memangnya . . . ?”
“makanya kalau dikelas lihat kiri kanan dong”, ejeknya.
Namanya Elma, anak Riau, tinggi, putih dengan beberapa jerawat menghiasi wajah, begitulah laporan yang kuterima dari Ruli. Dalam hati aku mengaguminya, begitu gigih orang satu ini, apa tak ada lagi yang dijadikan pertimbangan. Apa begitu yang dinamakan cinta, bersuara sekeras-kerasnya, berucap seribu kata hanya untuk sebuah sosok.
Semakin lama semakin penasaran ku dibuatnya, dicekokinya aku dengan kata-kata manis yang membentuk lukisan sang dara di otak.
“sialan, cukup! Tak takut kau kalau akupun nanti mengaguminya”
“kalau sekedar mengagumi tak ada salahnya, asal. . .”
“asal apa?” tanyaku
“jangan sampai mencintai” katanya dengan mimik serius
Tampaknya temanku yang satu ini telah terkena virus yang sangat mematikan & sejauh ini belum ditemukan obatnya. Padahal penyakit yang satu ini telah ada disaat manusia diciptakan, unik memang. Entah apa yang harus kulakukan untuk menolongnya. Wajah itu tak mencerminkan sakit akibat dari penyakit yang diidapnya. Senyumanlah yang menghiasi, bola mata yang berbinar-binar & merekahnya bibir hitam mendorong kedua belah pipi.
Tanpa kusadari kenangan yang menyesakkan telah pergi dariku.
“besok gue kenalin ama loe” kata Ruli
Matahari udah pulang ke kandang, bintang-bintang mulai berlarian & menghiasi langit. Dari jauh tampak olehku bangunan berwarna hijau yang selama setahun ini kujadikan kandangku. Kubuka pintu & langsung merebahkan diri.
“ sori Rul, rasanya akupun mulai mencintai dia”.

( Reza)

TAK BERUJUNG PANGKAL

Seraut wajah girang menantang di pelupuk mata. Yang ia tau hari itu belum lagi dimulai.
“kenapa kau tersenyum, apa yang kau rasakan?, tolong ceritakan”
Wajah itu hanya menampilkan ekspresi yang sama, yang mendatangkan kekesalan dan tanya, jangan – jangan dia menertawakanku???
“hentikan senyumanmu!” makiku
“memangnya apa yang kau rasakan dengan senyumanku, tolong ceritakan!”
Tiba – tiba badan ini terseret menjauh, semakin menjauh. senyuman itupun hilang dari pelupuk mata. Seorang pria terlihat berjalan perlahan dengan kepala yang menunduk, matanya dengan cermat memandangi setiap jejak langkah yang dilalui. Entah apa yang dicarinya. Diseberang jalan wajahku terpampang dengan penuh selidik. Belum lagi aku memutuskan untuk menghampiri pria itu badan ini kembali terseret ke tempat yang tak bisa direka.
“ mas, aku pengen kamu lekas melamar aku”
“ itu nanti saja diomonginnya” rayuku
Ketegangan mulai menguasai batang pusakaku. Tangan ini langsung saja meluncur dengan penuh ambisi untuk segera memasuki garasi.
“ mas,kamu dengar nggak sih yang aku omongin?”
“ tentu saja aku dengar, tapi saat ini aku hanya ingin menikmati ketegangan yang lebih, baru habis kalimat itu aku ucapkan, lagi – lagi sosok itu menghilang. Di samping taman yang rimbun sesosok pria sedang terbaring pulas dengan muntahan isi perut yang menyengat. Dari balik mobil terdengar canda tawa seorang gadis yang semalam keperawanannya telah terengut,berkat kata – kata manis yang meracuni logika.
“ kamu tenang saja, aku nggak akan tinggalin kamu” ucapku sebagai rasa terima kasih dan rasa syukur atas kesuksesan semalam. Matahari mulai terasa menyengat dan menambah aroma muntahan semakin kuat tercium. Pemuda itu terbangun dengan kebingungan.
” Aku di mana?” tanyaku setengah terbangun, mengapa aku berakhir disini?, dimana pria yang tadi berjalan sambil menunduk?, kemana perginya gadis yang minta kulamar?, lalu apa yang dilakukan gadis yang menyerahkan perawannya padaku semalam tadi??? hari belum lagi dimulai dan aku hanya berusaha tersenyum dengan tenggorokan yang terasa pahit dan aroma menyengat dengan bekal tanya. Tapi hari ini belum lagi dimulai.

( Reza )

Seperti awal dari cerita

Ku(r)caci memainkan nada
Sumbang menggema gendang telinga
Ku(r)caci lalu tertawa
Terbahak-bahak lalu muntahkan
Segala caci……….blaablaaabla………….
Maaf,ada yang salah???
Bodoh nian kau fulan,apa perlu kata maaf???
Di situ aku berdiri………disebelah kiri
Lalu tertawa terbahak-bahak
Seperti awal dari cerita

Reza

“Perang Dingin”

Jam telah menunjukkan pukul 00.00 wib, baru saja Rudi ingin menikmati dunia yang tak dapat direka oleh nalar.
“ Sialan, siapa yang sms gw jam segini?” ternyata berita yang sangat mengecewakan bagi setiap ‘pemakai’.
“ Rud, tolong bilangin anak – anak, gw sekarang di ‘penginapan cokelat’, jangan hubungin gw, terutama Adi” karuan saja bulu kuduk langsung berdiri tegak. Gila, nih anak becandanya udah kelewatan, pikirnya. Jangan – jangan bener lagi. Ah, mendingan gw hubungin aja deh.
“ Halo Di, loe tau nggak si Andi sekarang lagi di Polda?”
“ Ah, yang bener loe”
“ Barusan gw dapet sms, katanya sih gitu, trus dia minta gw bilang ama anak – anak jangan hubungin dia, terutama loe”
“ waduh, gawat nih. Nama gw kebawa – bawa nggak ya?” tanya Adi ketakutan
“ Ya udah, nanti gw hubungin loe lagi deh. Sekarang gw mau tidur dulu”
Lagi – lagi Rudi harus kecewa.
“ Rud, kalau bisa loe tolong hubungin kakak gw?” begitu permintaan seorang pengantar kabar buruk disaat pergantian hari. Akhirnya Rudi menyerah untuk berkunjung ke dunia yang sangat luas dan penuh kebebasan. Memasuki hari baru dihabisi dengan pertanyaan demi pertanyaan yang jawabannya mau tak mau harus di biarkan menyusul kemudian. Mata yang semakin memerah teracuhkan. Tiba – tiba ia teringat dengan ‘kekasihnya’ yang selalu menemani semenjak duduk di bangku SMP. Kayaknya gw harus habisin sekarang juga nih daripada bengong atau nanti malah ada yang bertamu, trus gw malah diajak ikut ke tempat kerjanya. Setelah menunggu, akhirnya satu demi satu pertanyaan mulai terjawab. Ternyata bukan hanya satu orang teman yang biasa berbagi ganja yang di ajak nginap di ‘penginapan cokelat’. Kabar terbaru yang membuat Rudi hampir mengeluarkan sisa makanan yang ditelan hari kemarin, ada seorang teman yang berubah menjadi srigala. Entah apa yang membuatnya menjadi seorang pecundang dengan menjual kebebasan teman sendiri.
“ Sori man, barusan di jalan gw ketemu yang ginian” begitu ucapan yang keluar dari mulut si pecundang dengan mimik cengengesan.
“ Mana yang namanya joni, Pak liat nih anak Bapak lagi pada pesta ganja” kata tamu tak diundang yang mengekor di belakang si pecundang kepada ayahnya Vido. Terang aja yang dicari ngggak langsung membalas soalnya lagi nyantai di persimpangan alam sana dan alam sini.
“ Ini ganja punya siapa?” tanya cokelat dengan mimik riang gembira melihat lima paket keceriaan seharga 50 ribu satu paketnya.
“ Maksud loe apa bawa ‘cokelat’ ke tempat gw?” Tanya Vido di dalam ‘penginapan’
Yang ditanya hanya diam dengan memasang tampang tak bersalah.
Akhirnya satu persatu yang nginap chek out dengan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dari kamar hotel berbintang lima. Vido yang rumahnya didatangi saat sedang menikmati daun keceriaan merasa dihujam dengan persahabatan yang dijalin dengan si pecundang.
“ gila, gw nggak nyangka dia bakal tega ngelakuin ini, Rud kalau bisa tolongin si Andi” ujar Vido setelah chek out. Dan beruntungnya ternyata masih banyak yang menjaga persahabatan dibanding nilai rupiah.
“Halo Rud, gimana, udah ada kabar terbaru tentang Andi?” tanya Adi
“Kemarin kata kakaknya harga check out 7 juta, paling lambat besok jam 12 malam”
“ Ya udah, kita ngumpulin aja seadanya dari anak – anak, entar besok sore ketemu di tempat biasa”
“Di, masih ada nggak?”
“Ada, kalau mau loe ke sini aja, tapi liat kiri kanan sebelum masuk rumah gw,heeehheee, buruan
“Mendengar tawanya Adi membuat indera penciuman Rudi mulai rindu dengan aroma yang membawa kawan – kawannya harus chek in di ‘penginapan cokelat’.
“Halo, ini Rudi kak, gimana perkembangan tentang Andi?”
“Kita lagi nunggu kabar dari Ayahnya Andi”
Setelah pertemuan malam itu , salah seorang menawarkan pinjaman lunak dari kawannya sebesar 3,5 juta dengan jaminan motor. Tawaran ini lalu disampaikan ke keluarganya Andi, maklum duit yang terkumpul dari anak - anak hanya bisa membantu sebisanya. Penawaran lunak tak ditampik pihak keluarga.
Waktu menunjukkan pukul 22.00
“ Jadi siapa aja yang mau ikut ngejemput Andi?” tanya Rudi.
Semuanya sepakat untuk ngejemput Andi. Sebelumnya strategi-pun di susun, maklum beberapa kawan masih merasa risih / ngeper kalau harus berhadapan dengan musuh dalam perang dingin termasuk Rudi yang barusan masih asyik menikmati daun keceriaan pemberiaan Adi. Bukannya apa – apa tapi takutnya bapak – bapak ini malah minta air kencing. Nggak tau kenapa akhir – akhir ini mereka suka banget sama air kencing. Bukan hanya di tempat hiburan mereka berburu air kencing, sampai kost – kostan juga diuber.
Strategi yang disepakati, dengan bekal 3,5 juta dua orang kawan masuk ke dalam ‘penginapan Cokelat’ guna merayu si Cokelat biar harga penginapan bisa lebih manusiawi dan yang lainnya menuggu di depan. Setelah menunggu hampir setengah jam ponsel Rudi terdengar menjerit memecahkan lamunan beberapa kawan yang setengah harap – harap cemas (semoga misi yang diemban dua perayu berhasil).
“ Halo, gimana bro?”
“ Waduuh, yang punya penginapan tetap ngotot pengen 7juta, tapi Andi bisa Chek out malam ini dengan syarat sisanya menyusul”
“ Trus keluarganya setuju nggak?”
“ Kakak- nya setuju”
Waktu menuggu belum habis setelah ponel Rudi berhenti mengeluarkan suara si pengemban misi. Di sela – sela penantian ternyata beberapa kawan yang hanya terdiam mulai menunjukkan ketidaknyamanan.
“ Busyet, banyak banget ‘cokelat’ yang mondar mandir, mendingan kita cabut aja dulu. Kalau nggak nunggu di tempat bubur kacang ijo aja” ajak Rudi yang mulai merasa gelisah takut tuh cokelat berhenti trus ngajak main ke tempat kerjanya.
“ Iya, gw juga dari tadi udah mau ngasih usul kayak gitu. Kurang nyaman nunggu di sini” kata Dendi yang sama, nggak mau air kencingnya nanti diminta. Baru beberapa meter beranjak, pasukan perayu mengabarkan sang kawan yang dijemput sudah berada di luar ‘penginapan’ dan ingin bertemu.
” Ya udah, kita sekarang lagi di lampu merah deket ‘Penginapan’. Ditunggu di sana, ok”
Pergantian hari itu lalu disambut dengan menikmati ‘keceriaan’ bersama kawan yang hampir tiga hari tidak mencicipi menu alam yang membebaskan kita untuk terbahak –bahak.heeeeheeeeheeeeee. Perang dingin masih berlaku tapi Rudi bersama yang lainnya semakin waspada terutama terhadap pecundang – pecundang yang berada di sekitar mereka. ( Reza)

“MIMPI ?”

Akhirnya aku dapat menginjakkan kaki lagi di sini. Belum begitu lama negeri ini kutinggalkan. Rasa kangen dan kerinduan tak lagi dapat diucapkan. Negeri yang membuat pengunjungnya menjadi “pecandu”. Sekali menginjakkan kaki di negeri ini maka mereka tak mau lagi pulang kampung. Mewakili mereka, kuhaturkan maaf buat para leluhurnya. Aroma segar menemani setiap kali menghirup udaranya. Kulit di sekujur tubuhpun serasa dimanja dengan kesejukannya. Negeri ini sangat jauh berbeda dengan tempat asalku. Panas, dan dikelilingi lautan itulah gambaran di mana aku berasal. Di sini yang ada hanya pegunungan. ‘Kembang – kembang’ segar yang senantiasa menunggu para kumbang untuk datang menculik, setidaknya hanya 1x24 jam. Sujud syukur segera kulakukan. Di teras depan aku melihat ayah sedang menikmati kopi hangat buatan Bi Inah yang bodinya sering dijamah oleh mata Ayah. Entah sampai kapan hanya mata itu yang menghianati Bunda. Akupun sempat berpikir untuk menanyakan hal ini kepada Ayah, namun tak tega rasanya mengganggu kesenangan Ayah.
“ Yah, Bunda kemana ?”
“ Lagi ke arisan. Kamu kalau mau sarapan itu ada uang di atas TV”
“ Semalam aku mimpi buruk, Yah”
“ Itu biasa” jawab Ayah sambil matanya kembali menyentuh setiap lekuk tubuh Bi Inah
yang sedang asyik membersihkan halaman.
“ Tapi ini benar – benar seram, Yah”
“ Apanya yang seram, sana ke WC. Muka kamu itu yang seram”
Sehabis membersihkan muka aku kembali menghampiri Ayah. Kali ini Bi Inah bukan lagi menjadi santapannya tapi tayangan penjual aib yang sedang laku di tiap stasiun TV.
“ O iya, tadi kamu mau cerita tentang mimpi. Memangnya mimpi apa?” Tanya Ayah
“ Aku seperti dilemparkan ke suatu tempat yang begitu bau dan panas, tiap sudut kota
banyak dikerumuni lalat”.
Dengan mimik seperti menertawai, Ayah kembali mencicipi sisa kopi.
“ Lalu yang seram itu apanya?, masa lalat kamu bilang seram”
Karena dongkol, aku lalu pergi untuk mencari tukang bubur ayam buat sarapan. Baru beberapa langkah dari rumah, hidung ini seperti menangkap bau yang sama yang tercium dalam mimpiku. Karuan saja aku langsung berbalik arah kembali kerumah.
“ Ayah, apa yang Ayah lakukan?”
Tangan – tangan Ayah yang sedang mendapat liburan gratis mengunjungi setiap tempat pada tubuh Bi Inah tiba – tiba menghentikan langkahnya ketika mendengar suaraku.
“ Eh, Den” sapa Bi Inah kikuk
“ Den, ayo bangun, nanti kamu terlambat lho. Ini ambil buat jajan” Kata Bunda sambil mengeluarkan dua lembar pecahan sepuluh ribu. Di halaman depan Ayah asyik menikmati kopi sambil mencuri satu demi satu bagian tubuh Bi Inah yang sedang menyirami bunga. Bau itu, kenapa bau itu masih mengikutiku?, Apa aku masih tidur? Tolong……toloooooong.
“ Kamu kenapa Den?” Tanya Bunda
“ Bau itu Bun”
“ Oh, itukan bau sampah. Kamu ini kayak yang baru nyium saja”

( Reza )

“PEMBERONTAKAN”

Belum pernah aku melihat alat secanggih ini di etalase – etalase toko elektronik manapun. Alat ini dapat mengeluarkan cairan bening kalau sang pemilik sedang sedih dan terasa asin bila dicicipi. Beberapa orang yang kutemui tak seberuntung aku, contohnya kedua temanku, sejak dilahirkan mereka tak dapat merekam keindahan yang ada di hadapannya. Dan karena keindahan itu pula pemberontakan mulai terjadi.
“Lho kok bisa begitu?”
“Akupun tak mengerti” kataku
“Memangnya sudah lama itu terjadi?”
“Ya belum begitu lama sih”
“Coba kamu ingat lagi, sudah sejak kapan ini terjadi”
“Aku rasa, sejak aku berumur 15 tahun”
Sekarang aku telah berumur 20 tahun dan pemberontakan itu makin menjadi- jadi.
“Sudah begitu lama, dan kamu tidak melaporkannya pada siapapun?”
“Aku malu, takut ditertawai”
“Bahkan dengan dua orang yang membuatmu?”
“Itu apalagi” kataku
“Paling tidak salah satu dari mereka kamu ajak berbagi (curhat, kata yang sering dipakai
Anak-anak muda sekarang, entah siapa yang melahirkan kata itu)”
“Mana mungkin, kan sudah ku bilang tadi, aku malu”
Suasana lambat laun mulai hening. Wajah- wajah yang sejak tadi nampak serius mulai menambah tingkat keseriusan, begitu yang terlihat olehku.
“Hei Dhi, dari tadi kok diam saja?” tanyaku
“Hm….”
“Ayo dong, kasih saran”
Adhi yang sejak tadi diam masih saja tenggelam dalam diamnya yang semakin dalam, hanya kerutan didahinya yang bicara. Dua – duanya aku kenal sejak duduk di bangku SMA. Yang aktif melontarkan pertanyaan adalah Rudi, Anak seorang pengusaha daging. Putih, tegap dengan bekal hidung mancung yang di hadiahkan padanya sejak lahir, banyak teman- teman sejenis ibuku yang mengaguminya. Itulah Rudi kawanku yang sejak datang ke bumi ini tak dapat memandangi keindahan isinya. Lain lagi dengan sosok yang yang sedari tadi hanya diam bagai patung keramat yang sedang dimantrai oleh kisahku. Adhi, seorang jawa yang tak pernah mengakui kejawaannya. Memang dia mempunyai darah campuran, tapi tidak serumit es campur. Ayahnya jawa, ibunya menado. Keluarga religius, itu yang terbesit di benakku saat bertandang ke rumahnya. Kalau boleh jujur itu bukan rumahnya, melainkan rumah orang tuanya. Pertama mengenal Adhi pusing aku dibuatnya. Selalu memposisikan diri sebagai pendengar setia, terkadang setianya melebihi kesetiaan yang diharapkan lawan bicara.
“Ayo dong dhi, kasih masukkan” Rudi memulai, seperti pemimpin upacara mengakhiri mengheningkan cipta.
“Hm….., aku rasa, hm…”
“Hm…, itu masukkan yang sangat bijak” kataku setengah mengejek, bahkan sepenuhnya mengejek.
Dongkol juga hati ini dibuatnya. Sepertinya kesetiaan yang berlebihan itu telah merusak otak dan lidahnya, pikirku. Hanya hm…. aku rasa, hm…
Apa kisahku sejauh ini hanya pantas mendapatkan Hm…seorang kawan yang diangkat anak oleh nenek moyangnya setia.
“Kalau kamu memang nggak punya pendapat ya sudah”kata Rudi
“Bukan begitu” mulai ia bangkit dari semedinya
“Lalu apa? Dari tadi cuman hm.. yang kamu bagi”kataku
“Aku sedang berpikir, tadi kamu bilang tentang pemberontakan” Adhi mulai bersuara.
Predikat patung yang telah kuberikan kuambil kembali dan simpan baik-baik, barangkali suatu saat akan kuberikan lagi.
“Iya” jawabku
“ 5 tahun, cukup lama” kata Adhi
“Ya, begitulah” balasku
“Karena alat yang kamu miliki” Adhi mulai seperti detektif
“Aku tak berani bilang seperti itu, tak tega aku menyalahkannya”
Kesetian yang dimiliki Adhi lambat laun mulai menipis, atau bisa dibilang berpindah rumah dan menulari Rudi.
“Aku tak habis pikir” kata Adhi
“Memangnya kenapa?” Rudi mulai bangkit lagi
Aku mulai menyesal membagi kisah yang satu ini dengan mereka, tak tega aku menyiksa pikiran mereka denga kisah ini.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi” kataku, berusaha membebaskan mereka dari siksaan
yang kuciptakan.
“Nanti dulu” kata Rudi
“Iya, tak bisa seperti itu”Adhipun menguatkan kata-kata Rudi
Mulai terlihat olehku dua sosok yang begitu haus akan kisah ini. Celaka sebentar lagi tombak-tombak yang keluar dari mulut mereka akan menyerangku.
Diam-diam aku mulai mempraktekan ilmu yang pernah kudapat sewaktu mengikuti kelas yoga (untuk menenangkan pikiran). Dalam hati aku bersyukur kedua temanku tak dapat menangkap kegelisahan yang sedang melanda wajah ini.
“Keindahan, pemberontakan, 5 tahun, malu melaporkan”semakin terlihat jiwa detektif
Adhi. Apa mungkin roh / hantu seorang detektif yang bicara melalui mulutnya.
Rudi terlihat tersiksa oleh keseriusan, semakin merana hati ini melihatnya. Tiba-tiba tombak pertama keluar dari mulutnya.
“Dari tadi kamu tak menceritakan dimana pemberontakan itu terjadi”
“Iya, itu yang belum kita tahu” Adhi mulai terdengar seperti pemimpin garis depan
dimedan perang.
Mampus, mampus, Berulang kali ku hadiahkan pada hati ini.
“Coba kamu ceritakan lagi, dan jangan bertele-tele. Gunakan kata-kata yang umum”kata Adhi
“Janji kalian tak akan menertawaiku”
“Sudah, jangan banyak ngomong” balas Rudi
“Tapi kalian janji dulu”
“Iya” jawab keduanya kompak layaknya prajurit.
Mereka berdua saling menatap, entah apa yang mereka tatap. Akupun mengambil ancang-ancang untuk memulai dari awal.
“Semua ini hanya karena keindahan yang sering kali aku jumpai bahkan pada saat aku
terlelap dalam tidur”
Belum lagi sempat menyebutkan tempat terjadinya pemberontakan, Adhi memotong seakan kesabarannya sudah habis. Bahkan kalau diperbolehkan dia mau ngutang dulu.
“Jadi dimana letaknya tempat itu, dan tolong jangan bertele-tele?” serang Adhi
“Janji kalian tidak akan menertawaiku”
“Persetan dengan janji, ayo cepat.dimana?”
Dengan keringat dingin produksi malu,
“Dibalik sempak”
“Apa?” Tanya keduanya
“Dibalik sempak” kataku
“Haa…haa….haaaaaaaa…” tertawa mereka sesedap sedapnya
“Sialan, mana janji kalian”
“Kalau itu bukan cuman kamu, kita juga sering mengalaminya. Perbedaannya kita hanya dapat membayangkan sedangkan kamu begitu beruntung, dapat mencicipi dengan kedua bola matamu. Pemberontakan ini akan berakhir seiring habisnya visa kita di muka bumi. Ada yang sudah tidak lagi mampu berdiri tegak, namun jiwa itu masih tersisa” ucap Adhi


( Reza )

“INDAH, BEGITU INDAH”

Wah, indah, begitu indah. Kata yang sudah seharusnya terlontar dari balik mulut ketika mata melihat pemandangan yang menyenangkan.
“ Apa benar itu punya kamu?”
“ Iya, memangnya kamu buta apa?”
Sambil menelan liur yang memang tak ada habisnya, terkadang mencoba untuk mengalihkan pikiran akibat pemandangan yang ada di depan. Ketika telah berusaha sekuat tenaga tapi belum juga berhasil mendapatkan yang diinginkan, pemandangan yang indah itu tak akan berubah dan akan tetap menyenangkan. Semakin membuat bulu kuduk merinding, menahan …………..
“ Memangnya itu benar-benar asli?”
“ Apa asli tidaknya masih menjadi masalah?”
“ Bagiku, entahlah? Aku sendiri kadang bertanya, apa itu akan kujadikan masalah”
“ Kalau memang begitu lebih baik kamu coba saja sendiri”
“ Maksudnya, aku boleh……?”
“ Tentu, kalau cara itu bisa membantumu memutuskan apa ini akan menimbulkan
masalah atau sebaliknya”
“ Sungguh, aku boleh membuktikannya?”
“ Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu dan spesial kupersembahkan untuk keraguan
yang masih bersarang diotak itu”
Indah, begitu indah. Pemandangan seperti ini mungkin dapat ditemui kapan saja, tapi untuk dapat persetujuan seperti ini, wah………….kapan lagi?.
“ O iya, aku ingin menanyakan apa sebelumnya kamu pernah melakukan ini?”
“ He…hee…hee, lucu. Kenapa kalimat itu bisa terlontar dari mulut mu?”
“ Apanya yang lucu, ini benar – benar serius buatku!”
“ Ups, sori. Tapi apa aku masih diperbolehkan untuk itu….?”
“ Boleh, dengan persyaratan kamu harus menjawab pertanyaanku yang tadi”
Suara bising kendaraan semakin membuatnya merasa manjadi petualang sejati yang sedang berjuang keras agar genggaman tangan pada karang itu tidaklah membuatnya melayang ke bawah dan menjatuhkan nafasnya yang terakhir.
Sial, kenapa pakai persyaratan segala, ini jelas menjadi masalah bagiku. Ini jelas kujadikan masalah. Apa harus aku membuktikan keaslian itu? Bagaimana kalau nanti semua itu tak lagi kujadikan masalah tapi malah menjadi masalah.
Indah , begitu indah. Mungkin ini semua sudah seharusnya kunikmati apa adanya, tanpa harus bertanya tentang keaslian, tanpa harus memuaskan rasa keingintahuan yang nanti malah akan menyeretku. Nikmati keindahan itu, tak perlu bersusah payah mengalihkan pikiran, tak perlu membuang muka. Keindahan itu tak akan berubah sedikitpun kalau memang sejak awal telah terlihat menyenangkan.
“ Hallooo…, gimana?”
“ Sori, aku rasa cukup bagiku untuk menikmati pemandangan ini tanpa harus
membuktikan, tapi terima kasih atas tawarannya”

( REZA )

Hello…,siapa disana???

Hello dentuman
Hello reaksi
Apa kabar hari ini???
Tingkat kewaspadaan mulai menjadi
Ada siapa di sana???
Aku sang pelamun
Aku hanya pemimpi
Aku pecandu mimpi
Hello…,siapa disana???
Kandang 16-09-2009
REZA

“HANYA MENIDURI”

Mata itu selalu mengawasi sosok mungil yang ada di seberang jalan. Tak pernah luput sedikitpun. Segala tingkah si mungil dengan cermat terekam dalam memorinya. Setiap kaki yang menghampiri. Setiap tangan yang menjatuhkan sesuatu.
Belum lagi kulit itu berkeriput, garis-garis pada kulit dibawah matanya belum lagi tercipta.
“Maaf, kalau saya boleh tahu ibu ini sedang apa?”
( Kenapa menggunakan kata maaf, kenapa harus melontarkan kalimat yang menunggu persetujuan. Apa perlu semua itu kita terapkan pada sosok yang belum lagi berkeriput?, yang sedari tadi hanya mengawasi si mungil. Apa hari ini dia akan mendapatkan hasil yang banyak?, mungkin hanya itu yang ada dalam pikiran wanita satu ini. Wanita yang kira – kira baru berumur dua puluhan ini mencoba menyembunyikan paras manisnya dibalik kotoran debu yang disapukan pada wajah, baju rombeng yang dikenakan memang menebarkan aroma tajam yang menggangu indera penciuman orang – orang yang berlalu - lalang di depannya namun sekali lagi itu tidak dapat menyembunyikan kemolekan tubuhnya ).
“Saya sedang menunggui anak saya”
( Untuk apa aku menjawab pertanyaan sosok yang belum dikenal, yang sedari tadi terlihat mengawasi gerak-gerikku ).
“Maaf, memangnya anak ibu sedang di mana?”
“Anak saya sedang bekerja”
( Apa maksud dari semua pertanyaan sosok didepanku? )
Mencoba untuk tenang wanita ini menghunuskan jari telunjuk dan diarahkan ke seberang jalan, tepat mengenai si mungil. Dengan ingus yang bergelantungan pada lubang hidungnya si mungil memasang wajah memelas seperti yang telah diajarkan oleh sang induk. Bagi seorang anak yang masih suka bermain ingus, aktingnya cukup meyakinkan.
“Yang di seberang itu anak ibu?”
“Iya, itu anak saya”
( Kapan si pemuda ini akan berlalu dengan pertanyaan-pertanyaannya yang membuat pengawasanku menjadi kacau?).
“Itu anak yang keberapa?”
“Entah yang keberapa?”
( Apa urusannya. Anak yang keberapa, memangnya dia pikir dia siapa? Petugas sensus, maki si Ibu dalam hati ).
“ Apa semuanya sudah bekerja, terus sebagai apa saja?”
“Semuanya sama”
( Semuanya sama, hanya menunggu dari berbagai tangan yang menjatuhkan sesuatu ).
“Kalau ayah mereka bekerja juga?”
“Tentu, ayahnya juga bekerja”
“Apa sama juga?”
“ Tidak, kerjanya ayah mereka hanya meniduri saya”
( Dan itu juga pasti yang kamu inginkan. Kalau saja aku tidak mengenakan baju ini, kalau saja kamu melihat tubuh ini sehabis mandi. Aku yakin kamu juga akan melakukan yang sama seperti ayahnya ).
( Reza )

Halo

Halo apa kabar, lama kita tak berjumpa, karena ini awal pertemuan kita. O iya
Selama ini semuanya baik-baik saja kan?gimana kabar Tuhanmu, apa masih sering berjumpa denganNYA.
Yang disapa : “Ya,gitu deh”
Yang menyapa : “Maksudnya?”
Yang disapa : “Selalu baik-baik saja, tentunya”.
Yang menyapa : “Bagus kalau begitu”.
Yang disapa : “Memangnya ada apa?”
Yang menyapa : “Apa akhir-akhir ini ia sering marah?”
Yang disapa : “Kalau itu aku kurang tahu, memangnya kenapa?”
Yang menyapa : “Akhir-akhir ini sering kulihat bencana dari layar TV”.
Yang disapa : “Mungkin Tuhanmu yang sedang marah”.
Yang menyapa : “Mungkin juga, terus dari mana kamu tahu kalau Tuhanmu baik-baik
Saja”.
Yang disapa : “Kata orang-orang”.
Yang menyapa : “Memangnya mereka kenal juga dengan Tuhanmu?”
Yang disapa : “Sebagian dari mereka mengenalNYA.kamu sendiri gimana, apa
Tuhanmu masih yang dulu?”
Yang menyapa : “Masih, dan aku bersyukur akan itu”.
Yang disapa : “Berarti kamu sering berjumpa denganNYA”.
Yang menyapa : “Tentu, sehari bisa lima kali aku berjumpa denganNYA”.
Yang disapa : “Wah, begitu sering. kalau aku seminggu sekali”.
Yang menyapa : “Dimana kamu kenal Tuhanmu?”
Yang disapa : “Dari seseorang yang ku kenal waktu duduk di bangku SMU”
Yang menyapa : “Terus,apa yang di janjikan padamu?”
Yang disapa : “Katanya sih surga”.
Yang menyapa : “Oke, kalau begitu sampai berjumpa di sana”.

( Reza )

“DISUCIKAN YANG TAK SUCI”

Hari itu terasa begitu menyiksa setidaknya bagi Bayu. Kalau saja layar monitor yang sejak tadi dipelototinya bisa bicara mungkin Bayu sudah dimakinya. Otak itu memang sudah cukup lama dikarantina, gelisah yang tak berkesudahan seringkali menyapanya.
Satu demi satu lagu ditampilkan dalam monitor, mencoba mengendalikan bom yang tertanam sejak setahun yang lalu. Begitu banyak memori yang terbuka tanpa diakses. Senyuman berganti keresahan menyelimuti wajah yang jauh dari jelek. Untuk beberapa saat ia mulai terlihat dapat mengendalikan memori mana yang diinginkan. Dan yang terpilih menjadi juara setidaknya untuk saat ini adalah seorang dara yang hadir dalam kehidupannya di alam nyata maupun alam mimpi sejak setahun yang lalu. Anna. putih , mancung , tinggi semampai, berambut hitam pekat, tampilan fisiknya seperti tokoh putri dalam dunia dongeng. Menggiurkan tentunya.
Senyuman kembali menghinggapi Bayu. Betapa lucu awal mereka berjumpa, pikirnya. Waktu itu Bayu sedang main di salah satu Mall di kota Bandung. Saking asyiknya dia menikmati pemandangan sore itu ia lupa kalau sebenarnya ada janji untuk bertemu dengan orang tuanya yang sedang datang berkunjung.
Busyet…….. udah pukul 17:30 WIB, aku kan ada janji mau nyamperin nyokap di Hotel. Tiba-tiba, “sori aku nggak sengaja, sori banget”. Seorang dara manis yang terlentang berusaha bangun dengan luka memar di sikutnya.
“ Ada yang bisa aku bantu?”
“ Gimana kalau bantuin aku bangun” pinta sang dara
“ Sori” sambil menahan rasa malu Bayu dengan cepat membantu.
“ Kamu nggak apa-apa kan?”
“ Sejauh ini sih hanya memar, kalau itu menurut kamu nggak apa-apa”
“ hehee … oke deh. Sekali lagi sori banget”
“ eh, entar dulu, nama kamu siapa, aku minta nomor HPnya dong”
“ Aku Bayu, nomor HP buat apa?”
“ Kalau nanti aku ke dokter taunya ada yang parah gimana? Aku kan harus minta
ganti rugi”
“ Oke”
Begitulah awal pertemuan mereka. Awalnya Bayu tidak terlalu memerhatikan sosok Anna.
“ Hallo, bisa bicara ama Bayu?”
“ Iya, aku Bayu, ini siapa ya?”
“ Aku, cewe yang sikutnya kamu bikin cacat, Anna”
Pertemuan demi pertemuan pun menjadikan mereka semakin mengenal satu sama lain.
Dengan gerakan tiba-tiba seolah baru terbangun dari mimpi buruk ia mencari keterangan tentang hari yang sedang dicumbu.
Sabtu, Bagi beberapa orang hari ini merupakan hari yang disucikan untuk bertemu atau menghampiri sang dara, dengan melakukan ritual saling mengisi akan lebih baik untuk hari itu sendiri. Dan Bayu adalah salah satunya, hanya sang daralah yang lebih sering menghampiri dan tak jarang hinggap di batangnya.
“Hai, ngelamun aja”
Terperanjat dari lamunan yang masih bayi.
“Hai, dari mana?” Tanya Bayu masih dengan bekas-bekas lamunan pada wajahnya
“Kamu lupa ya, inikan hari sabtu”
“Nggak, cuman kaget aja”
“Kaget kenapa?”
“Biasanya kalau mau datang pasti nelfon dulu”
“Memangnya harus?” Tanya Anna dengan manja
Untuk beberapa saat bekas-bekas lamunan mulai meninggalkan wajahnya. Penghayatan pada hari yang disucikan mulai mengisi benak, bahkan membaur dengan darah.
Begitu dahsyat hari ini, atau lebih tepat begitu dahsyat sosok yang mengisi hari ini. Kerinduan akan dara yang menghinggapi batang mulai menggelitik.
Ah, nanti dulu. Ajaran yang benar ritual dilakukan pukul 18:00 WIB keatas, pikirnya. Semakin ia mencoba mengamalkan ajaran itu, semakin kuat rasa itu mencambuknya. Setan, ini bukan sabtu pertama bagi kita, kenapa harus mengikuti aturan, sedangkan yang membuat tak jelas batang hidungnya. Aku pernah , bahkan sering melanggar. Tak ada makian atau cacian yang dipaketkan untukku.
Belum sempat ia menyampaikan rasa itu, sang dara melontarkan sebuah permintaan yang tak ada kaitannya dengan ritual.
“Bay, antarin aku dong”
“Kemana?”
“Ke tempatnya Zee”
“Siapa tuh?”
“Teman SMA, mau ya. please” rayu Anna
Beragam konsep yang sedari tadi memenuhi isi otak terasa mendesak untuk keluar. Gila aku harus gimana. Inikan hari yang dikeramatkan, sedangkan Zee hanya teman dari masa yang telah tertinggal. Dan rasa ini, benar-benar gila. Apa aku harus menjadi pendosa, meninggalkan ritual hanya untuk sosok dari masa lampau sang dara, makinya dalam hati.
Kenapa kamu tega menjerumuskan aku, tahukah kamu dengan meninggalkan ritual berarti bertambah lagi ranjau di otak ini. Sadarkah engkau, cahaya telah menyinari hati ini dan membunuh semua lamunan seiring langkahmu memasuki pintu itu. Awalnya aku bukan penganut hari ini, darimulah aku mengenal semua ini. Kenapa sekarang kau membuatku menjadi pendosa ( keluh kesah yang tak sempat menghampiri telinga Anna).
“Bay, kok malah melamun sih?”
“Hm….”
“Mau ya”
“Tempatnya jauh nggak?” Tanya Bayu penuh keengganan.
“Nggak kok”
“Tapi kita nggak lama kan?”
“Iya, palingan sejam tambah sejam”
“Kalau gitu aku mandi dulu” kata Bayu
Selama perjalanan menuju kamar yang biasa dipakai untuk mandi, tak habis - habisnya paket diterima. Bego, jangan mau, masa tidak melakukan ritual, pendosa, ini hari suci, bego. Begitu isi paket yang diterima dan sang pengirim tak lain dari hatinya sendiri.
Pokoknya aku harus melakukan ritual. Sehabis mandi dengan langkah yang pasti Bayu masuk ke kamar.
“Bay, kondomnya masih ada nggak?” Tanya Anna yang membuat bayu tersenyum lebar.
“Kayaknya masih ada” jadi juga pikirnya.
“Bay, kamu maukan?”
“Iya dong. Inikan hari suci, aku nggak mau jadi pendosa” jawab Bayu lantang.
“Tapi kita jadi nggak ke tempat Zee?”
“Kalau itu nanti aja deh” jawab Anna
Cuaca diluar seakan mengamini apa yang ada dibenak kedua insan ini. Kebetulan tempat kost lagi sepi. Di kost-an Bayu memang hanya ada sembilan kamar dan kebanyakan pegawai. Pada akhir pekan mereka sering kali menyempatkan diri mengunjungi keluarganya.
Dengan gerakan perlahan dan penuh kelembutan Anna menghampiri Bayu yang sedari tadi duduk di depannya. Bibir kedua sejoli saling melumat satu sama lain. Tangan – tangan tak lagi dapat diredam, saling menjajaki alam masing – masing.
Desahan nafas mulai memenuhi ruangan seiring perjalanan jari jemari bayu yang melintasi setiap lekuk tubuh Anna. Melintas perlahan dan tak jarang berhenti sejenak pada titik – titik tertentu. Ketika perjalanan itu mendekati alam terindah yang dimiliki sang dara, Annapun membisikkan sesuatu.
“Bay, aku lagi dapet”
“Maksudnya?”
“Bulan ini aku dapet lebih awal. Tapi aku pengen banget. kamu maukan, Bay?”
“Gila, ini benar – benar gila” dengan sigap Bayu melepaskan diri dari dekapan Anna.
Tangan Anna yang sedang menikmati hangat batangnya Bayupun harus menyudahi semua itu.
“Kenapa Bay, kan ada kondom. Please......., apa kamu mau kita menjadi pendosa?. Kita masih bisa melakukan ritual” rayu Anna penuh hasrat.

( Reza )

“RASAKAN”

Biarkan, biarkan apa adanya
Tetesan air mata usah di hapus
Biarkan mengalir
Cerialah selagi bisa
Menjeritlah sekuatnya
Biarkan telinga mereka tersapa
Mereka hanya engkau yang lainnya
Tiada beda, hanya tak sama
Tak perlu bantahan
Rasakan adanya


Anjing, kemana aja? (sapaan hangat bagi yang menganutnya)
Saya : “Ya, sapaan hangat bagi yang menganutnya”
Hati : “kenapa ?”
Saya : “kenapa apanya?”
Hati : “mengapa harus menganut?”
Saya : “kenapa tidak?”
Hati : “apa ada yang mengharuskan?”
Saya : “memang ada bedanya?”
Hati : “hmmm…..”
Saya : “kurang tau…..”
Hati : “dicoba ?”
Saya : “kenapa bertanya.”
Hati : “memang tak ingin bertanya.tapi…...”
Saya : “tapi apa?”
Hati : “kenapa bertanya”

Sehari setelah hari ini,

Hati : “bagaimana?,sudah menemukan jawabannya”
Saya : “jawaban dari apa?”
Hati : “yang dibahas kemarin”.
Saya : “oh……”
Hati : “oh……”
Saya : “jadi, bagaimana?”
Hati : “maunya, bagaimana?”
Saya : “kenapa bertanya?”
Hati : “jadi, bagaimana?”
Saya : “kenapa bertanya?”

Seminggu, setelah hari ini,

Hati : “aku telah menemukan jawabannya”.
Saya : “apa?”
Hati : “rasakan”
Saya : “terus?”
Hati : “tertawa sekerasnya!”
Saya : “ha……haaa…ha……..”
Hati : “menjerit sekuatnya!”
Saya : “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……”
Hati : “kamu menganutnya?”
Saya : “menganut apa?”
Hati : “yang kita bahas”
Saya : “kapan?”
Hati : “seminggu sebelum hari ini”
Saya : “oh…..”
Hati : “oh…..”
Saya : “kenapa bertanya?”
Hati : “hm…hm…”
Saya : “rasakan”
Hati : “terus?”
Saya : “tertawa sekuatnya!”
Hati : “ha…haa…..ha…………”
Saya : “menjeritlah sekerasnya!”
Hati : “aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…...”
Saya : “jadi, bagaimana?”
Hati : “kenapa bertanya?”
Saya : “oh…”


( Reza )

“BERAKHIRNYA KERINDUAN”

Malam semakin larut ketika aku harus menghentikan alur otak yang mulai membangkang. Usaha untuk menghubungi dia yang selama ini menjadi salah satu pemeran penting dalam aksi pembangkangan otak ini mulai terhimpit oleh kerinduan teramat sangat. Apa yang bisa kulakukan, kesepian menusuk bertubi – tubi hingga tak ada lagi darah yang menetes dari tubuhku yang semakin rapuh. Tak habis ku berpikir, apa yang merasuki jiwa dan hati hingga terpuruk dalam permainan yang selama ini aku perankan, dan selalu keluar sebagai tokoh yang dielu-elukan, tanamkan sayatan yang dalam di hati mereka ketika langkah semakin menjauh , menghilang tanpa ada seorang pembaca jejak mampu mengendus keberadaan ku. Sungguh episode terlena dalam kesendirian sudah tak dapat lagi kuperankan, ini terlalu menghitamkan sebongkah daging yang seharusnya menjadi anugerah terindah yang dihadiahkan kepadaku.
“Halo, maaf tante bisa bicara ama Noni?”
“Noni-nya udah kerja di Jambi, ini dari siapa ya?”balas seorang ibu yang anaknya mengalahkan aku sebagai nominasi pemain paling dicari, mulai tahun ini dan entah hingga kapan akan berlangsung. Bahkan aku-pun memilihnya.
“Dari Vido, tante. Kalo boleh tau nomer telepon di jambi berapa tante, atau nomer Hp-nya aja?” balasku penuh harap.
“Tante juga kurang tau ya, kalo Hp noni nggak punya”
“Kalo gitu, tolong bilang aja dari Vido, ama Vido nitip nomernya Vido, tante”
Apa mungkin mamanya Noni telah menjadi pemeran pembantu dalam permainan ini. Apa mereka sengaja ingin menyimpan jejaknya Noni dariku. Apa yang mungkin menjadi alasan untuk itu?????????????????
Sebait lirik yang menceritakan tentang balas dendam memekakkan telingaku. Lagu ini, bukannya lagu ini pernah memberi inspirasi baginya untuk menghancurkanku. Benar, sekarang aku baru ingat. Ini lagu yang pernah diutarakan Noni ketika entah berapa banyak sudah cairan matanya kutumpahkan. Kulitku semakin mengerut, warna coklelatnya sudah tak lagi kontras, memudar dan tampak keperihan hati dipermukaannya, garis di bawah mata menghitam dari hari ke hari. Aku tau ini peran yang dibuatNYA untuk-ku tanpa harus melalui casting. Dan ini semua berkat suksesnya adegan – adegan yang telah ku perankan mengiringi kepahitan kenyataan dan perih sayatan di hati mereka, Noni-lah yang mewujudkan doa mereka namun hati kecil ini masih mengharapkan cacian, makian daripada harus menelan kekalahan yang begitu terasa telak, hingga merontokkan segala benteng hatiku sebagai seorang lelaki, bekas pemain yang di cari – cari.
Dua tahun telah membuatku dapat kembali mendirikan benteng itu , tentunya dengan konsep yang lain , permukaan serta dalamnya terasa halus.
“Halo, bisa bicara ama noni?”
“Maaf, ini dari siapa?”terdengar suara pemeran pembantu yang lirih menahan kepahitan
“Vido, tante” balasan berikutnya telah kuramalkan , tidak ada.
“Vido, sebelumnya tante minta maaf kalo Noni ada kesalahan sama Vido” tak terbendung lagi kepahitan itu mengiringi suara mamanya.
“Iya, tante. Tapi kenapa tante menangis?”
“Noni,....Noni sudah nggak ada lagi di sini?”
“Masih di Jambi tante, bagaimana kabarnya?”balasku
“Noni sudah meninggalkan tante dan keluarga, sebulan yang lalu noni meninggal dunia”
Jawaban itu kembali meluluh-landakan pijakan kaki dan hati yang telah kubangun dengan penuh rasa bersalah yang tak bisa lagi kuucapkan. Maafkan aku Non..........................................
Sebulan dari saat itu ternyata aku divonis menderita HIV+. Kuterima vonis ini dengan senyuman yang begitu lebar, semata hanya karena kerinduanku kepada Noni akan segera berakhir.
“Maafin Vido… Ma, maafin Vido…., Pa” kata – kata yang terakhir yang kuucapkan kepada kedua orang yang paling kucintai meskipun hanya mampu dalam hati. Sayup – sayup terdengar suara mama “ Pergilah nak, Mama dan Papa sayang kamu”
( Reza)

“BALIKIN”

Kiri...., kiri pak. Ini orang tuli apa sengaja…?. Akhirnya…, sialan gue harus jalan jauh lagi. “ Pak, lain kali kalau dengar kata kiri itu berarti berhenti atau stop saat itu juga”. Mana panas banget. Ini udah nggak adil. Setahu gue, berhubung gue orangnya tau diri, ini kulit udah item, tapi tiap kali gue ngelangkah kemana aja, matahari nyorotin gue melulu. Udah beberapa tahun terakhir ini matahari kayaknya ngincar gue tiap kali keluar rumah. Bukannya nggak butuh, tapi kalo nyorotinnya kayak gini sih…………
Harga BBM naik, listrik naik, telepon naik, semuanya pada naik. Kalo udah kayak gini kan gue ruginya jadi berlipat-lipat. Sekarang loe bayangin, gue mandi pake air, nah air di kontrakan gue baru nyala kalo ada listrik. Terus gue juga butuh sabun, loe taukan kegunaannya sabun, he..hee..heee jangan belaga bego loe. Habis mandi biar harum sepanjang hari tentu butuh yang namanya deodorant. Nah ini semua harus bisa gue dapatin meskipun semuanya pada naik. Belum lagi gue harus pintar nabung buat kebutuhan biologis. Syukur-syukur kalo dapet pacar. Kalo misalnya iya, dana buat yang tadi gue alihin buat telepon.
Sekarang ini gue masih kuliah di salah satu kampus swasta di kota Bandung, yang pasti kampusnya nggak terkenal, wajarkan semuanya pada naik. Buat ke kampusnya dua kali naik angkot. Sekali naik dua ribu lima ratus, apa nggak mampus tuh. Belum lagi makan. Udah deh, loe harus pintar-pintar. Kalo mau mandi mendingan numpang di tempat tetangga, sekalian pinjam sabun ama deodorantnya. Trus kalo mau menuhin kebutuhan biologis, loe harus ramah ama semua cewek, kali aja ada yang ngasih. Buat perut, loe harus banyak ngobrol ama tukang jajanan atau ama yang punya warung terdekat dari tempat loe tinggal.
“ Oi Lex, loe mau masuk nggak?” dari tadi bengong aja. “ loe duluan deh”. tadi itu salah satu teman senasib. Yang anehnya dia nggak pernah ngeluh di depan orang, tapi dilampiasinnya ama belajar. hebat banget tuh orang , bingung gue.
Kemarin perasaan kalo gue nongkrong di sini nggak ada yang nyorotin. Entar dulu , ini pasti ada yang salah. “Bang, kemarin waktu gue duduk di sini loe ada nggak?”
“ Iya lah, kemarin loe-kan ngutang nasi ama gue, janjinya hari ini mau bayar”
“ Oh, kalo urusan utang entar dulu. Yang mau gue tanyain, kemarin apa loe liat gue
kena sorotan matahari?”
“ kayaknya nggak”
“ Benarkan, ini pasti ada yang salah. Tapi apa ya?”
Nguap deh deodorant gue. Ah… sialan.
“Bang, nasinya satu”
Sampai nih nasi tinggal suapan terakhir masa gue masih nggak ingat. Jangan-jangan…..
“Oi bang, loe sengaja ya mau bikin gue ilang ingatan, loe taro apa di nasi gue?”
“ Muke gile loe, udah ngutang pake nuduh lagi. Gue kutuk jadi pohon baru tau rasa”
“ Nah, itu dia. Kemana pohon yang kemarin?” masa ama pohon gue bisa lupa.
“ Kemarin malam ada yang ngambil”
“ Siapa?”
“ Tau. Katanya sih di suruhan Aa Aa”
“ Gila, masa pohon untuk kepentingan umum diambil juga”.
Terus gue harus nongkrong dimana lagi? Muka guekan jadi kepanasan. Apa yang ngambil nggak tau kalo sekarang panas banget.
“ Bang, entar-entar lagi kalo ada yang mau ngambil pohon, loe nasehatin dong”
“Ah, ada-ada aja loe”
“Ada-ada aja gimana?”
“ Masa gue harus nasehatin utusan Aa Aa. Entar gue yang dibawa”
“ Alah…….., inikan untuk kepentingan kita semua. Untuk kepentingan abang juga”
“ Loe kalo ngomong bisa aja. Utang loe kapan dibayar?”
“ Entar kalo hati ama kulit gue udah adem, nggak kepanasan lagi. Makanya kalo ketemu
ama yang ngambil pohon, bilangin balikin pohon kita, oke. Gue balik dulu”
“ Mabok apa patah hati loe, ngomong kayak sales aja”
“ O iya bang, entar sore gue numpang mandi ya”
Nah gitu, kita harus akrab sama siapa aja yang bisa buat beban kita terasa ringan. Yang terpenting komunikasi. Kalo loe ngerasa susah untuk memulai suatu komunikasi, jangan sekali-kali loe paksain. Tunggu sampai momennya tepat. Berapa lamanya, itu tergantung dari isi kantong loe. Satu lagi yang harus gue ingatin ama loe semua, ini nggak kalah penting dengan apa yang loe anggap penting. Kalo ketemu ama orang yang dipanggil Aa Aa, tolong loe ceritain kisah gue ini, oke. Ama bilangin pohon kita tolong di balikin.


( Reza )

“AKU MENIKMATI SEMUA, SETIAP DETIKNYA”

Aku pelakunya. Jujur, ku akui semua itu. Tak ada sedikitpun rasa malu menghantui. Aku menikmati semua, setiap detiknya. Entah sudah berapa banyak yang jadi korban. Aku tak pernah peduli dengan yang mereka rasakan, meskipun kalau apa yang mereka rasakan ternyata sama denganku, itu akan lebih membahagiakan, mungkin?. Ada yang bahkan tak pernah menyadari telah menjadi korban. Dalam setiap detik kuhancurkan kepolosan didepanku, entah memang itu adanya atau yang terlihat. Sekali lagi aku tak perduli, kunikmati semua, setiap detiknya. Seringkali akupun menanyakan pada organ yang kumiliki, katanya apabila busuk organ itu maka busuk pula sang pemiliknya. Apa organku telah busuk?, entahlah, kalau yang satu ini sebisa mungkin tak kuperdulikan. Apa aku pernah menjadi korban?
“ Sayang, jangan pernah tinggalkan aku”
Setelah kuhancurkan kepolosan yang selama ini dirawat, dan dihiasi petuah-petuah oleh ayah dan bundanya. Entah sudah berapa kali kalimat itu terdengar olehku, dan setiap kali itu juga tak pernah kuperdulikan. Aku menikmati semua, setiap detiknya.
“ Terus sayang, terus……”
Sejak kata-kata itu terlontar darinya, ada kebimbangan yang mendalam dari hati ini. Apa sebenarnya yang ia pikirkan?, kenapa kesenangan itu tiba-tiba menjadi memudar. Seharusnya aku semakin bahagia, apa dia sudah tak lagi menjadi korban?. Apa ini saatnya aku yang menjadi korban?, apa ini yang ia rasakan disaat pertama kali kepolosan itu hancur olehku?.
Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi, tapi sungguh aku tak mau menukar posisiku dengannya.
“ Tolong, jangan pernah mengatakan itu lagi” pintaku
Dengan mata yang semakin mengisaratkan kedamaian, si korban menatapku. Gerakan yang entah ter-ilhami dari mana membuatnya semakin lama semakin mendesakku secara halus agar segera menyerahkan posisi ini.
“ Apa yang kau inginkan?, katakan sejujurnya” makiku
Hanya senyuman dan gerakan yang semakin menjadi-jadi yang kudapat darinya. Setiap detik, semuanya tak lagi terasa nikmat.
“ Tolong, tingglkan aku” pintaku
Terlihat jelas senyum kemenangan di wajah si korban, atau lebih tepatnya bekas korban. Karena sepertinya ia telah memutuskan untuk menjadi pesaingku. Dan dengan perlahan ia-pun berlalu, satu hal yang masih membawa kebimbangan bagiku. Kata-kata terakhir yang ia ucapkan.
“ Thanks, aku menikmati semua, setiap detiknya”



(Reza )

“Hilangnya Kejenuhan”

Pagi buta seperti biasanya Ade sudah terbangun. Cermin , monitor komputer serta tuts – tuts keyboard yang telah meninggalkan jejak diatas permukaannya menjadi teman yang semakin menambah penat, akibat itu – itu lagi yang dijamahnya meski entah telah berapa banyak kertas kalender yang tak mungkin lagi terpakai. Hanya kumpulan tulisan – tulisan caci maki yang tak menemukan jalan untuk keluar dari hard disk komputernya, sial................

“Apa harapan itu hanya ada dalam mimpi, bukan dalam kenyataan karena tak pernah ku temui”. Kata yang mengalir lembut dari mulut vokalis plastik ini semakin membuat Ade merasa tak ada gunanya lagi terbangun di pagi hari bahkan untuk bangun kapan saja ia enggan. Untuk apa aku menginjakkan kaki di dunia mimpi kalo nantinya terbangun dengan cercaan yang dilontarkan cermin sialan itu.

“Sampai kapan bencana ini akan berakhir”. Benar , sampai kapan..............? teriaknya membenarkan kata – kata vokalis plastik. Semakin lama diikuti lirik tersebut ego Ade merasa ditoel. Braakkkkkkk, layar monitor, speaker mendarat dengan badan yang terpisah, meninggalkan sejarah pahit yang tidak juga mendatangkan keceriaan di pagi berikutnya. Pagi ini tak satupun suara vokalis yang ingin didengarnya. Ketika menghampiri cermin Ade menemukan senyuman lebar yang sangat tak beralasan untuk dipamerkan. Ia lalu melangkah ke arah lemari. Dengan tangan kanan seutas tali dipungutnya. Ilmu menyimpul tali yang didapat ketika menjadi pramuka ternyata dianggapnya merupakan pembuktian bahwa dia bisa membuat sesuatu yang ‘berguna’. Ditangan kiri ia menggenggam tali yang telah selesai dibaluri ilmu menyimpul, tangan kanan lalu menarik kursi, menaiki dan seterusnya ia mengakhiri rasa jenuh dan statisnya kegiatan menyambut pagi. Pagi setelah pagi itu batang hidung Ade sudah tidak lagi mengunjungi cermin di kamar indekost-nya. Sejak saat itu juga tak ada satupun yang ingin menujukkan batang hidungnya di kamar itu.
( Reza )