Ruangan itu terlalu kecil untuk ditempati seorang penguasa yang cukup disegani. Bukannya ingin hidup secara sederhana dan memberikan contoh bagi warganya tapi ini adalah tindakan penyelamatan orang – orang kepercayaan yang begitu mencintai pemimpin mereka. Ruangan ini sudah sejak lama diciptakan untuk menyelamatkan pemimpin mereka dari zombie yang sejak lama pula mengincarnya. Dibelahan dunia lain seorang zombie telah duduk bersantai dengan pengawalan yang sangat ketat bahkan seekor lalat tidak akan luput dari pengawasan mata para pengawal.
“ Bagaimana apa sudah ada kabar dimana tempat persembunyian si Brewok?” tanya zombie kepada kepala militernya, sambil meneguk segelas anggur merah.
“ Beberapa tempat yang dicurigai menjadi tempat persembunyian telah diratakan dengan tanah tapi bangkainya belum ditemukan”
Di ruangan yang megah yang dihiasi warna putih dari luar hingga dalam dan menjadikan warna itu menjadi nama gedung tempat berdaung para zombie yang mengontrol kebijakkan dunia duduk pula perdana menteri, seorang zombie betina yang sangat kejam.
“Bagaimana menurut perdana menteri?” Tanya raja zombie
“Teruskan misi, dan kalau perlu ratakan semua gedung yang ada di sana, jangan sampai ada lubang tikus yang terlewatkan” jawab perdana menteri
“Baiklah kalau begitu, tapi apa keberadaan warga sipil harus diperhatikan”tanya kepala militer
“Jangan biarkan keberadaan mereka menghalangi misi” balas perdana menteri dengan mimik yang semakin menunjukkan betapa buruk wajah yang dimilikinya.
Di beberapa kunjungannya ke negara – negara ‘jajahannya’ terutama yang berada di benua Asia sang perdana menteri negara zombie ini seringkali mencoba mengubah bentuk wajah yang buruk rupa dengan sering tersenyum dan mengatakan hal – hal baik dengan maksud menidurkan warga negara yang menjadi ‘jajahan’ negaranya. Taktik ini memang telah menjadi prosedur standar bagi setiap penjajah. Mengambil hati secara halus akan diterapkan terlebih dahulu selama negara ‘jajahannya’ masih bisa dikendalikan. Negara tempat Asep berdaung merupakan salah satu ‘jajahan’ negara zombie. Sejak merdeka dari jajahan negeri kincir angin, negara Asep yang merasa bangga dengan kebebasannya semakin terikat kaki dan tangan bahkan lidahnya-pun hanya dapat mengeluarkan kebijakan yang disetujui oleh raja zombie. Secara fisik dan kasat mata negara Asep tak terlihat layaknya negara jajahan. Gedung yang menjulang tinggi dan megah sudah tak terhitung lagi dengan jari, mobil keluaran terbaru dari merek apapun dapat dilihat di jalanan negara ini.
“Sep, tau nggak barusan berita di TV tentang negara si Brewok?”
“Memangnya kenapa, apa si Breyok,ops Brewok udah ketangkap ama pasukan zombie?”
“Belum sih. Gila, aku sampai merinding ngeliatnya. Tambah gersang aja negara si Brewok, udah panas terus setiap hari malah di bombardir” kata Malih teman senasib Asep yang belum menyadari bahwa nasib mereka sama dengan si Brewok. Namun hal ini pasti disanggah Brewok dan pengikutnya karena mereka melawan setiap bentuk penjajahan zombie di negaranya.
Telepon berwarna merah terang di ruang raja zombie menjerit – jerit untuk digenggam.
“Halo, selamat malam Pak, maaf saya menggangu” terdengar suara kepala militer
“ Tidak apa – apa. Saya belum tidur kebetulan sekarang perdana menteri sedang bersama saya. Kami sedang menonton acara Jack ass. O, iya ada apa kamu menghubungi saya?”
“Mengenai si Brewok, kami telah menemukannya dalam keadaan hidup di sebuah ruang bawah tanah di desa kelahirannya”
“Bagus, ucapkan selamat dari saya bagi para pasukan yang telah berhasil menangkap Brewok dan kamu atur pengiriman rasa terima kasih saya bagi mereka”
“Maksud bapak bintang penghargaan?”
“Ini yang lebih mereka butuhkan daripada bintang penghargaan. Kirim beberapa betina untuk dijadikan santapan mereka” Telepon lalu ditutup, raja dan perdana menteri saling melemparkan senyuman. Keduanya lalu terbahak – bahak kegirangan. Dibelahan dunia lain para pemimpin di negara Asep pun terbahak – bahak menikmati segala bentuk penjajahan. ( Reza )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar