Rabu, 22 Desember 2010

“AKU MENIKMATI SEMUA, SETIAP DETIKNYA”

Aku pelakunya. Jujur, ku akui semua itu. Tak ada sedikitpun rasa malu menghantui. Aku menikmati semua, setiap detiknya. Entah sudah berapa banyak yang jadi korban. Aku tak pernah peduli dengan yang mereka rasakan, meskipun kalau apa yang mereka rasakan ternyata sama denganku, itu akan lebih membahagiakan, mungkin?. Ada yang bahkan tak pernah menyadari telah menjadi korban. Dalam setiap detik kuhancurkan kepolosan didepanku, entah memang itu adanya atau yang terlihat. Sekali lagi aku tak perduli, kunikmati semua, setiap detiknya. Seringkali akupun menanyakan pada organ yang kumiliki, katanya apabila busuk organ itu maka busuk pula sang pemiliknya. Apa organku telah busuk?, entahlah, kalau yang satu ini sebisa mungkin tak kuperdulikan. Apa aku pernah menjadi korban?
“ Sayang, jangan pernah tinggalkan aku”
Setelah kuhancurkan kepolosan yang selama ini dirawat, dan dihiasi petuah-petuah oleh ayah dan bundanya. Entah sudah berapa kali kalimat itu terdengar olehku, dan setiap kali itu juga tak pernah kuperdulikan. Aku menikmati semua, setiap detiknya.
“ Terus sayang, terus……”
Sejak kata-kata itu terlontar darinya, ada kebimbangan yang mendalam dari hati ini. Apa sebenarnya yang ia pikirkan?, kenapa kesenangan itu tiba-tiba menjadi memudar. Seharusnya aku semakin bahagia, apa dia sudah tak lagi menjadi korban?. Apa ini saatnya aku yang menjadi korban?, apa ini yang ia rasakan disaat pertama kali kepolosan itu hancur olehku?.
Mungkin ini memang sudah seharusnya terjadi, tapi sungguh aku tak mau menukar posisiku dengannya.
“ Tolong, jangan pernah mengatakan itu lagi” pintaku
Dengan mata yang semakin mengisaratkan kedamaian, si korban menatapku. Gerakan yang entah ter-ilhami dari mana membuatnya semakin lama semakin mendesakku secara halus agar segera menyerahkan posisi ini.
“ Apa yang kau inginkan?, katakan sejujurnya” makiku
Hanya senyuman dan gerakan yang semakin menjadi-jadi yang kudapat darinya. Setiap detik, semuanya tak lagi terasa nikmat.
“ Tolong, tingglkan aku” pintaku
Terlihat jelas senyum kemenangan di wajah si korban, atau lebih tepatnya bekas korban. Karena sepertinya ia telah memutuskan untuk menjadi pesaingku. Dan dengan perlahan ia-pun berlalu, satu hal yang masih membawa kebimbangan bagiku. Kata-kata terakhir yang ia ucapkan.
“ Thanks, aku menikmati semua, setiap detiknya”



(Reza )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar