Rabu, 22 Desember 2010

“BERAKHIRNYA KERINDUAN”

Malam semakin larut ketika aku harus menghentikan alur otak yang mulai membangkang. Usaha untuk menghubungi dia yang selama ini menjadi salah satu pemeran penting dalam aksi pembangkangan otak ini mulai terhimpit oleh kerinduan teramat sangat. Apa yang bisa kulakukan, kesepian menusuk bertubi – tubi hingga tak ada lagi darah yang menetes dari tubuhku yang semakin rapuh. Tak habis ku berpikir, apa yang merasuki jiwa dan hati hingga terpuruk dalam permainan yang selama ini aku perankan, dan selalu keluar sebagai tokoh yang dielu-elukan, tanamkan sayatan yang dalam di hati mereka ketika langkah semakin menjauh , menghilang tanpa ada seorang pembaca jejak mampu mengendus keberadaan ku. Sungguh episode terlena dalam kesendirian sudah tak dapat lagi kuperankan, ini terlalu menghitamkan sebongkah daging yang seharusnya menjadi anugerah terindah yang dihadiahkan kepadaku.
“Halo, maaf tante bisa bicara ama Noni?”
“Noni-nya udah kerja di Jambi, ini dari siapa ya?”balas seorang ibu yang anaknya mengalahkan aku sebagai nominasi pemain paling dicari, mulai tahun ini dan entah hingga kapan akan berlangsung. Bahkan aku-pun memilihnya.
“Dari Vido, tante. Kalo boleh tau nomer telepon di jambi berapa tante, atau nomer Hp-nya aja?” balasku penuh harap.
“Tante juga kurang tau ya, kalo Hp noni nggak punya”
“Kalo gitu, tolong bilang aja dari Vido, ama Vido nitip nomernya Vido, tante”
Apa mungkin mamanya Noni telah menjadi pemeran pembantu dalam permainan ini. Apa mereka sengaja ingin menyimpan jejaknya Noni dariku. Apa yang mungkin menjadi alasan untuk itu?????????????????
Sebait lirik yang menceritakan tentang balas dendam memekakkan telingaku. Lagu ini, bukannya lagu ini pernah memberi inspirasi baginya untuk menghancurkanku. Benar, sekarang aku baru ingat. Ini lagu yang pernah diutarakan Noni ketika entah berapa banyak sudah cairan matanya kutumpahkan. Kulitku semakin mengerut, warna coklelatnya sudah tak lagi kontras, memudar dan tampak keperihan hati dipermukaannya, garis di bawah mata menghitam dari hari ke hari. Aku tau ini peran yang dibuatNYA untuk-ku tanpa harus melalui casting. Dan ini semua berkat suksesnya adegan – adegan yang telah ku perankan mengiringi kepahitan kenyataan dan perih sayatan di hati mereka, Noni-lah yang mewujudkan doa mereka namun hati kecil ini masih mengharapkan cacian, makian daripada harus menelan kekalahan yang begitu terasa telak, hingga merontokkan segala benteng hatiku sebagai seorang lelaki, bekas pemain yang di cari – cari.
Dua tahun telah membuatku dapat kembali mendirikan benteng itu , tentunya dengan konsep yang lain , permukaan serta dalamnya terasa halus.
“Halo, bisa bicara ama noni?”
“Maaf, ini dari siapa?”terdengar suara pemeran pembantu yang lirih menahan kepahitan
“Vido, tante” balasan berikutnya telah kuramalkan , tidak ada.
“Vido, sebelumnya tante minta maaf kalo Noni ada kesalahan sama Vido” tak terbendung lagi kepahitan itu mengiringi suara mamanya.
“Iya, tante. Tapi kenapa tante menangis?”
“Noni,....Noni sudah nggak ada lagi di sini?”
“Masih di Jambi tante, bagaimana kabarnya?”balasku
“Noni sudah meninggalkan tante dan keluarga, sebulan yang lalu noni meninggal dunia”
Jawaban itu kembali meluluh-landakan pijakan kaki dan hati yang telah kubangun dengan penuh rasa bersalah yang tak bisa lagi kuucapkan. Maafkan aku Non..........................................
Sebulan dari saat itu ternyata aku divonis menderita HIV+. Kuterima vonis ini dengan senyuman yang begitu lebar, semata hanya karena kerinduanku kepada Noni akan segera berakhir.
“Maafin Vido… Ma, maafin Vido…., Pa” kata – kata yang terakhir yang kuucapkan kepada kedua orang yang paling kucintai meskipun hanya mampu dalam hati. Sayup – sayup terdengar suara mama “ Pergilah nak, Mama dan Papa sayang kamu”
( Reza)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar