Rabu, 22 Desember 2010

“PEMBERONTAKAN”

Belum pernah aku melihat alat secanggih ini di etalase – etalase toko elektronik manapun. Alat ini dapat mengeluarkan cairan bening kalau sang pemilik sedang sedih dan terasa asin bila dicicipi. Beberapa orang yang kutemui tak seberuntung aku, contohnya kedua temanku, sejak dilahirkan mereka tak dapat merekam keindahan yang ada di hadapannya. Dan karena keindahan itu pula pemberontakan mulai terjadi.
“Lho kok bisa begitu?”
“Akupun tak mengerti” kataku
“Memangnya sudah lama itu terjadi?”
“Ya belum begitu lama sih”
“Coba kamu ingat lagi, sudah sejak kapan ini terjadi”
“Aku rasa, sejak aku berumur 15 tahun”
Sekarang aku telah berumur 20 tahun dan pemberontakan itu makin menjadi- jadi.
“Sudah begitu lama, dan kamu tidak melaporkannya pada siapapun?”
“Aku malu, takut ditertawai”
“Bahkan dengan dua orang yang membuatmu?”
“Itu apalagi” kataku
“Paling tidak salah satu dari mereka kamu ajak berbagi (curhat, kata yang sering dipakai
Anak-anak muda sekarang, entah siapa yang melahirkan kata itu)”
“Mana mungkin, kan sudah ku bilang tadi, aku malu”
Suasana lambat laun mulai hening. Wajah- wajah yang sejak tadi nampak serius mulai menambah tingkat keseriusan, begitu yang terlihat olehku.
“Hei Dhi, dari tadi kok diam saja?” tanyaku
“Hm….”
“Ayo dong, kasih saran”
Adhi yang sejak tadi diam masih saja tenggelam dalam diamnya yang semakin dalam, hanya kerutan didahinya yang bicara. Dua – duanya aku kenal sejak duduk di bangku SMA. Yang aktif melontarkan pertanyaan adalah Rudi, Anak seorang pengusaha daging. Putih, tegap dengan bekal hidung mancung yang di hadiahkan padanya sejak lahir, banyak teman- teman sejenis ibuku yang mengaguminya. Itulah Rudi kawanku yang sejak datang ke bumi ini tak dapat memandangi keindahan isinya. Lain lagi dengan sosok yang yang sedari tadi hanya diam bagai patung keramat yang sedang dimantrai oleh kisahku. Adhi, seorang jawa yang tak pernah mengakui kejawaannya. Memang dia mempunyai darah campuran, tapi tidak serumit es campur. Ayahnya jawa, ibunya menado. Keluarga religius, itu yang terbesit di benakku saat bertandang ke rumahnya. Kalau boleh jujur itu bukan rumahnya, melainkan rumah orang tuanya. Pertama mengenal Adhi pusing aku dibuatnya. Selalu memposisikan diri sebagai pendengar setia, terkadang setianya melebihi kesetiaan yang diharapkan lawan bicara.
“Ayo dong dhi, kasih masukkan” Rudi memulai, seperti pemimpin upacara mengakhiri mengheningkan cipta.
“Hm….., aku rasa, hm…”
“Hm…, itu masukkan yang sangat bijak” kataku setengah mengejek, bahkan sepenuhnya mengejek.
Dongkol juga hati ini dibuatnya. Sepertinya kesetiaan yang berlebihan itu telah merusak otak dan lidahnya, pikirku. Hanya hm…. aku rasa, hm…
Apa kisahku sejauh ini hanya pantas mendapatkan Hm…seorang kawan yang diangkat anak oleh nenek moyangnya setia.
“Kalau kamu memang nggak punya pendapat ya sudah”kata Rudi
“Bukan begitu” mulai ia bangkit dari semedinya
“Lalu apa? Dari tadi cuman hm.. yang kamu bagi”kataku
“Aku sedang berpikir, tadi kamu bilang tentang pemberontakan” Adhi mulai bersuara.
Predikat patung yang telah kuberikan kuambil kembali dan simpan baik-baik, barangkali suatu saat akan kuberikan lagi.
“Iya” jawabku
“ 5 tahun, cukup lama” kata Adhi
“Ya, begitulah” balasku
“Karena alat yang kamu miliki” Adhi mulai seperti detektif
“Aku tak berani bilang seperti itu, tak tega aku menyalahkannya”
Kesetian yang dimiliki Adhi lambat laun mulai menipis, atau bisa dibilang berpindah rumah dan menulari Rudi.
“Aku tak habis pikir” kata Adhi
“Memangnya kenapa?” Rudi mulai bangkit lagi
Aku mulai menyesal membagi kisah yang satu ini dengan mereka, tak tega aku menyiksa pikiran mereka denga kisah ini.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi” kataku, berusaha membebaskan mereka dari siksaan
yang kuciptakan.
“Nanti dulu” kata Rudi
“Iya, tak bisa seperti itu”Adhipun menguatkan kata-kata Rudi
Mulai terlihat olehku dua sosok yang begitu haus akan kisah ini. Celaka sebentar lagi tombak-tombak yang keluar dari mulut mereka akan menyerangku.
Diam-diam aku mulai mempraktekan ilmu yang pernah kudapat sewaktu mengikuti kelas yoga (untuk menenangkan pikiran). Dalam hati aku bersyukur kedua temanku tak dapat menangkap kegelisahan yang sedang melanda wajah ini.
“Keindahan, pemberontakan, 5 tahun, malu melaporkan”semakin terlihat jiwa detektif
Adhi. Apa mungkin roh / hantu seorang detektif yang bicara melalui mulutnya.
Rudi terlihat tersiksa oleh keseriusan, semakin merana hati ini melihatnya. Tiba-tiba tombak pertama keluar dari mulutnya.
“Dari tadi kamu tak menceritakan dimana pemberontakan itu terjadi”
“Iya, itu yang belum kita tahu” Adhi mulai terdengar seperti pemimpin garis depan
dimedan perang.
Mampus, mampus, Berulang kali ku hadiahkan pada hati ini.
“Coba kamu ceritakan lagi, dan jangan bertele-tele. Gunakan kata-kata yang umum”kata Adhi
“Janji kalian tak akan menertawaiku”
“Sudah, jangan banyak ngomong” balas Rudi
“Tapi kalian janji dulu”
“Iya” jawab keduanya kompak layaknya prajurit.
Mereka berdua saling menatap, entah apa yang mereka tatap. Akupun mengambil ancang-ancang untuk memulai dari awal.
“Semua ini hanya karena keindahan yang sering kali aku jumpai bahkan pada saat aku
terlelap dalam tidur”
Belum lagi sempat menyebutkan tempat terjadinya pemberontakan, Adhi memotong seakan kesabarannya sudah habis. Bahkan kalau diperbolehkan dia mau ngutang dulu.
“Jadi dimana letaknya tempat itu, dan tolong jangan bertele-tele?” serang Adhi
“Janji kalian tidak akan menertawaiku”
“Persetan dengan janji, ayo cepat.dimana?”
Dengan keringat dingin produksi malu,
“Dibalik sempak”
“Apa?” Tanya keduanya
“Dibalik sempak” kataku
“Haa…haa….haaaaaaaa…” tertawa mereka sesedap sedapnya
“Sialan, mana janji kalian”
“Kalau itu bukan cuman kamu, kita juga sering mengalaminya. Perbedaannya kita hanya dapat membayangkan sedangkan kamu begitu beruntung, dapat mencicipi dengan kedua bola matamu. Pemberontakan ini akan berakhir seiring habisnya visa kita di muka bumi. Ada yang sudah tidak lagi mampu berdiri tegak, namun jiwa itu masih tersisa” ucap Adhi


( Reza )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar