Jam telah menunjukkan pukul 00.00 wib, baru saja Rudi ingin menikmati dunia yang tak dapat direka oleh nalar.
“ Sialan, siapa yang sms gw jam segini?” ternyata berita yang sangat mengecewakan bagi setiap ‘pemakai’.
“ Rud, tolong bilangin anak – anak, gw sekarang di ‘penginapan cokelat’, jangan hubungin gw, terutama Adi” karuan saja bulu kuduk langsung berdiri tegak. Gila, nih anak becandanya udah kelewatan, pikirnya. Jangan – jangan bener lagi. Ah, mendingan gw hubungin aja deh.
“ Halo Di, loe tau nggak si Andi sekarang lagi di Polda?”
“ Ah, yang bener loe”
“ Barusan gw dapet sms, katanya sih gitu, trus dia minta gw bilang ama anak – anak jangan hubungin dia, terutama loe”
“ waduh, gawat nih. Nama gw kebawa – bawa nggak ya?” tanya Adi ketakutan
“ Ya udah, nanti gw hubungin loe lagi deh. Sekarang gw mau tidur dulu”
Lagi – lagi Rudi harus kecewa.
“ Rud, kalau bisa loe tolong hubungin kakak gw?” begitu permintaan seorang pengantar kabar buruk disaat pergantian hari. Akhirnya Rudi menyerah untuk berkunjung ke dunia yang sangat luas dan penuh kebebasan. Memasuki hari baru dihabisi dengan pertanyaan demi pertanyaan yang jawabannya mau tak mau harus di biarkan menyusul kemudian. Mata yang semakin memerah teracuhkan. Tiba – tiba ia teringat dengan ‘kekasihnya’ yang selalu menemani semenjak duduk di bangku SMP. Kayaknya gw harus habisin sekarang juga nih daripada bengong atau nanti malah ada yang bertamu, trus gw malah diajak ikut ke tempat kerjanya. Setelah menunggu, akhirnya satu demi satu pertanyaan mulai terjawab. Ternyata bukan hanya satu orang teman yang biasa berbagi ganja yang di ajak nginap di ‘penginapan cokelat’. Kabar terbaru yang membuat Rudi hampir mengeluarkan sisa makanan yang ditelan hari kemarin, ada seorang teman yang berubah menjadi srigala. Entah apa yang membuatnya menjadi seorang pecundang dengan menjual kebebasan teman sendiri.
“ Sori man, barusan di jalan gw ketemu yang ginian” begitu ucapan yang keluar dari mulut si pecundang dengan mimik cengengesan.
“ Mana yang namanya joni, Pak liat nih anak Bapak lagi pada pesta ganja” kata tamu tak diundang yang mengekor di belakang si pecundang kepada ayahnya Vido. Terang aja yang dicari ngggak langsung membalas soalnya lagi nyantai di persimpangan alam sana dan alam sini.
“ Ini ganja punya siapa?” tanya cokelat dengan mimik riang gembira melihat lima paket keceriaan seharga 50 ribu satu paketnya.
“ Maksud loe apa bawa ‘cokelat’ ke tempat gw?” Tanya Vido di dalam ‘penginapan’
Yang ditanya hanya diam dengan memasang tampang tak bersalah.
Akhirnya satu persatu yang nginap chek out dengan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dari kamar hotel berbintang lima. Vido yang rumahnya didatangi saat sedang menikmati daun keceriaan merasa dihujam dengan persahabatan yang dijalin dengan si pecundang.
“ gila, gw nggak nyangka dia bakal tega ngelakuin ini, Rud kalau bisa tolongin si Andi” ujar Vido setelah chek out. Dan beruntungnya ternyata masih banyak yang menjaga persahabatan dibanding nilai rupiah.
“Halo Rud, gimana, udah ada kabar terbaru tentang Andi?” tanya Adi
“Kemarin kata kakaknya harga check out 7 juta, paling lambat besok jam 12 malam”
“ Ya udah, kita ngumpulin aja seadanya dari anak – anak, entar besok sore ketemu di tempat biasa”
“Di, masih ada nggak?”
“Ada, kalau mau loe ke sini aja, tapi liat kiri kanan sebelum masuk rumah gw,heeehheee, buruan
“Mendengar tawanya Adi membuat indera penciuman Rudi mulai rindu dengan aroma yang membawa kawan – kawannya harus chek in di ‘penginapan cokelat’.
“Halo, ini Rudi kak, gimana perkembangan tentang Andi?”
“Kita lagi nunggu kabar dari Ayahnya Andi”
Setelah pertemuan malam itu , salah seorang menawarkan pinjaman lunak dari kawannya sebesar 3,5 juta dengan jaminan motor. Tawaran ini lalu disampaikan ke keluarganya Andi, maklum duit yang terkumpul dari anak - anak hanya bisa membantu sebisanya. Penawaran lunak tak ditampik pihak keluarga.
Waktu menunjukkan pukul 22.00
“ Jadi siapa aja yang mau ikut ngejemput Andi?” tanya Rudi.
Semuanya sepakat untuk ngejemput Andi. Sebelumnya strategi-pun di susun, maklum beberapa kawan masih merasa risih / ngeper kalau harus berhadapan dengan musuh dalam perang dingin termasuk Rudi yang barusan masih asyik menikmati daun keceriaan pemberiaan Adi. Bukannya apa – apa tapi takutnya bapak – bapak ini malah minta air kencing. Nggak tau kenapa akhir – akhir ini mereka suka banget sama air kencing. Bukan hanya di tempat hiburan mereka berburu air kencing, sampai kost – kostan juga diuber.
Strategi yang disepakati, dengan bekal 3,5 juta dua orang kawan masuk ke dalam ‘penginapan Cokelat’ guna merayu si Cokelat biar harga penginapan bisa lebih manusiawi dan yang lainnya menuggu di depan. Setelah menunggu hampir setengah jam ponsel Rudi terdengar menjerit memecahkan lamunan beberapa kawan yang setengah harap – harap cemas (semoga misi yang diemban dua perayu berhasil).
“ Halo, gimana bro?”
“ Waduuh, yang punya penginapan tetap ngotot pengen 7juta, tapi Andi bisa Chek out malam ini dengan syarat sisanya menyusul”
“ Trus keluarganya setuju nggak?”
“ Kakak- nya setuju”
Waktu menuggu belum habis setelah ponel Rudi berhenti mengeluarkan suara si pengemban misi. Di sela – sela penantian ternyata beberapa kawan yang hanya terdiam mulai menunjukkan ketidaknyamanan.
“ Busyet, banyak banget ‘cokelat’ yang mondar mandir, mendingan kita cabut aja dulu. Kalau nggak nunggu di tempat bubur kacang ijo aja” ajak Rudi yang mulai merasa gelisah takut tuh cokelat berhenti trus ngajak main ke tempat kerjanya.
“ Iya, gw juga dari tadi udah mau ngasih usul kayak gitu. Kurang nyaman nunggu di sini” kata Dendi yang sama, nggak mau air kencingnya nanti diminta. Baru beberapa meter beranjak, pasukan perayu mengabarkan sang kawan yang dijemput sudah berada di luar ‘penginapan’ dan ingin bertemu.
” Ya udah, kita sekarang lagi di lampu merah deket ‘Penginapan’. Ditunggu di sana, ok”
Pergantian hari itu lalu disambut dengan menikmati ‘keceriaan’ bersama kawan yang hampir tiga hari tidak mencicipi menu alam yang membebaskan kita untuk terbahak –bahak.heeeeheeeeheeeeee. Perang dingin masih berlaku tapi Rudi bersama yang lainnya semakin waspada terutama terhadap pecundang – pecundang yang berada di sekitar mereka. ( Reza)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar