Rabu, 22 Desember 2010

“Hilangnya Kejenuhan”

Pagi buta seperti biasanya Ade sudah terbangun. Cermin , monitor komputer serta tuts – tuts keyboard yang telah meninggalkan jejak diatas permukaannya menjadi teman yang semakin menambah penat, akibat itu – itu lagi yang dijamahnya meski entah telah berapa banyak kertas kalender yang tak mungkin lagi terpakai. Hanya kumpulan tulisan – tulisan caci maki yang tak menemukan jalan untuk keluar dari hard disk komputernya, sial................

“Apa harapan itu hanya ada dalam mimpi, bukan dalam kenyataan karena tak pernah ku temui”. Kata yang mengalir lembut dari mulut vokalis plastik ini semakin membuat Ade merasa tak ada gunanya lagi terbangun di pagi hari bahkan untuk bangun kapan saja ia enggan. Untuk apa aku menginjakkan kaki di dunia mimpi kalo nantinya terbangun dengan cercaan yang dilontarkan cermin sialan itu.

“Sampai kapan bencana ini akan berakhir”. Benar , sampai kapan..............? teriaknya membenarkan kata – kata vokalis plastik. Semakin lama diikuti lirik tersebut ego Ade merasa ditoel. Braakkkkkkk, layar monitor, speaker mendarat dengan badan yang terpisah, meninggalkan sejarah pahit yang tidak juga mendatangkan keceriaan di pagi berikutnya. Pagi ini tak satupun suara vokalis yang ingin didengarnya. Ketika menghampiri cermin Ade menemukan senyuman lebar yang sangat tak beralasan untuk dipamerkan. Ia lalu melangkah ke arah lemari. Dengan tangan kanan seutas tali dipungutnya. Ilmu menyimpul tali yang didapat ketika menjadi pramuka ternyata dianggapnya merupakan pembuktian bahwa dia bisa membuat sesuatu yang ‘berguna’. Ditangan kiri ia menggenggam tali yang telah selesai dibaluri ilmu menyimpul, tangan kanan lalu menarik kursi, menaiki dan seterusnya ia mengakhiri rasa jenuh dan statisnya kegiatan menyambut pagi. Pagi setelah pagi itu batang hidung Ade sudah tidak lagi mengunjungi cermin di kamar indekost-nya. Sejak saat itu juga tak ada satupun yang ingin menujukkan batang hidungnya di kamar itu.
( Reza )